Sedih, Dua dari Tiga Petani RI Sudah Tua
Tuesday, 30 September 2025 19:37 WIB
“Ilustrasi” petani. (Foto: iStockphoto)
Radarsuara.com - Regenerasi petani di Indonesia menghadapi tantangan serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2023 sebanyak 66,44 persen pengelola usaha pertanian berusia 45 tahun ke atas, meningkat dari 60,79 persen pada 2013, dikutip dari situs resmi BPS pada Selasa, 30 September 2025.
Artinya, dua dari tiga petani kini berada pada usia menjelang pensiun, sementara jumlah petani muda terus menyusut.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keberlanjutan pangan nasional. Kelompok usia 15–34 tahun yang diharapkan menjadi tulang punggung regenerasi justru semakin sedikit.
Minimnya minat generasi muda dipengaruhi banyak faktor, mulai dari rendahnya kesejahteraan hingga sempitnya kepemilikan lahan.
BPS mencatat, 60,72 persen petani hanya berpendidikan SD ke bawah. Rendahnya tingkat pendidikan membuat adopsi teknologi pertanian modern berjalan lambat.
Padahal inovasi teknologi dinilai dapat menjadikan pertanian lebih menarik dan produktif bagi generasi baru.
Selain itu, fragmentasi lahan semakin memperburuk situasi. Pada 2023, sebanyak 60,87 persen rumah tangga usaha pertanian tergolong gurem dengan lahan di bawah 0,5 hektare.
Lahan sempit menyebabkan produktivitas rendah dan pendapatan sulit bersaing dengan sektor lain. Data BPS menyebut petani skala kecil hanya memperoleh Rp44.507 per hari kerja pada 2023, atau 43,8 kali lebih rendah dibanding petani non-skala kecil.
Meski demikian, ada perkembangan positif. Pada 2024, luas lahan pertanian berkelanjutan meningkat hingga 33,51 persen, dan akses perempuan terhadap kepemilikan lahan juga semakin baik.
Upaya tersebut dinilai dapat menjadi fondasi bagi masa depan pertanian yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Para pengamat menilai, cita-cita swasembada pangan hanya bisa terwujud bila regenerasi petani didorong lewat peningkatan pendidikan, kesejahteraan, serta tata kelola lahan yang adil. Tanpa terobosan di aspek tersebut, pertanian Indonesia berisiko kehilangan tenaga produktif di masa depan.
Editor: Mahipal
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023