Nasional

Bahaya! Ini Faktor Pendorong LGBT di Indonesia Menurut MUI

4 jam yang lalu
Ilustrasi, Faktor pendorong LGBT menurut MUI. (Foto: iStockphoto)

Radarsuara.com - Majelis Ulama Indonesia menilai fenomena fatherless atau ketiadaan figur ayah dalam kehidupan anak menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap maraknya LGBT di Indonesia. MUI pun mendorong para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam pengasuhan dan pembentukan karakter anak di lingkungan keluarga.

Ketua Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) MUI, Siti Ma'rifah, mengatakan persoalan orientasi seksual tidak hanya dipengaruhi faktor lingkungan luar, tetapi juga berkaitan dengan kondisi keluarga yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menurutnya, hilangnya peran ayah dalam keluarga dapat memengaruhi proses pembentukan identitas anak.

"Banyak juga LGBT disebabkan tidak hanya berkaitan dengan orientasi seksual, tapi lebih banyak juga karena adanya fatherless, di mana figur ayah tidak ada. Sehingga kemudian kecenderungan untuk orientasi seksual ini tidak sebagaimana mestinya," ujar Siti Ma'rifah dikutip dari MUI Digital, Rabu (24/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa ketidakhadiran ayah sebagai kepala keluarga dan teladan dapat membuat anak kehilangan figur yang menjadi rujukan dalam pembentukan karakter maupun identitas diri. Dalam kondisi tersebut, anak dinilai lebih rentan mengalami kebingungan peran apabila tidak mendapatkan pendampingan yang memadai dari lingkungan keluarga.

"Kondisi di keluarga ini tidak berfungsinya ayah sebagai kepala keluarga yang menjadi contoh, dan juga ibu yang berperan sebagai pembimbing. Nah itu karena figur ayah tidak ada, sehingga mungkin lebih dekat kepada figur ibu. Nah itu harus didudukkan," jelasnya.

Karena itu, MUI mengajak para ayah untuk tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pengasuhan kepada ibu. Menurut Siti, konsep Madrasatul Ula atau sekolah pertama bagi anak tidak hanya melekat pada peran ibu, tetapi juga ayah yang memiliki tanggung jawab sama dalam membimbing tumbuh kembang anak.

"Kami mengajak para ayah, ayo dong. Ini membimbing anak itu juga tidak hanya tanggung jawab ibu. Yang Madrasatul Ula ini tidak hanya perempuan, tapi juga ayah," tegas Siti.

Lebih lanjut, ia menilai persoalan keluarga seperti fatherless, masalah ekonomi, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) perlu diselesaikan secara menyeluruh. MUI saat ini terus menggelar berbagai program edukasi keluarga, termasuk workshop panduan pernikahan bagi remaja dan pasangan yang telah berumah tangga, serta mendorong hadirnya regulasi yang memperkuat ketahanan keluarga.

Menurut MUI, keluarga merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan bangsa. Oleh sebab itu, keseimbangan peran ayah dan ibu dalam keluarga dinilai penting untuk membangun ketahanan sosial sekaligus melindungi anak dari berbagai pengaruh yang dianggap menyimpang.

"Karena ketahanan keluarga ini menjadi hal penting, merupakan benteng terkecil dari sebuah bangsa dan negara. Kalau keluarga ini kuat, maka negara kuat. Kalau keluarga ini runtuh, maka negara karam," pungkasnya.

Editor: Mahipal

Komentar

You must login to comment...