Pertanian

Kementan: Kuncinya Air Guna Menjaga Produksi Saat Kemarau di Bangkalan

Minggu, 23 Juni 2024 09:12 WIB
Kementan: Kuncinya Air Guna Menjaga Produksi Saat Kemarau di Bangkalan (Foto: Dok. Kementan)

Radarsuara.com - Kementerian Pertanian terus memacu produksi padi nasional dengan memberikan dan mempercepat bantuan pompanisasi di berbagai daerah, khususnya yang berada di lahan tadah hujan yang kini terancam kekeringan.

Dengan bantuan tersebut, diharapkan petani bukan hanya menyelamatkan lahan sawah petani, tapi juga meningkatkan indeks pertanaman hingga tiga kali dalam setahun.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian pemerintah adalah Kabupaten Bangkalan, Madura.

Seperti dalam kunjungan Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi ke Kabupaten Bangkalan.

Di Desa Tunjung, Kecamatan Beurneh, Kabupaten Bangkalan, dengan bantuan pompanisasai dari pemerintah ada sekitar 30 hektar (ha) lahan sawah yang semula hanya 2 kali tanam, kini bisa 3 kali tanam dalam setahun.

Bahkan pada tanam ke empat, petani bisa menanam komoditas jagung.

”Selama ini kami, petani hanya tanam dua kali dalam setahun. Tapi dengan bantuan irigasi perpompaan bisa tanam tiga kali tanam. Kami usul pemerintah membantu alat mesin pertanian,” kata Ali saat berdialog dengan Dirjen Tanaman Pangan dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Bangkalan, Puguh Santoso, Sabtu (22/6)

Sementara itu di lokasi lain, Syamsul, salah seorang petani di Desa Dumajah, Kecamatan Tanah Merah, Kabbuaten Bangkalan mengeluhkan lahan sawahnya kekeringan.  

Di lokasi tersebut ada sekitar 70 ha lahan pertanaman padi. Dari luasan tersebut, sekitar 50 ha lahan pada musim tanam kedua ini mengalami kekeringan, sedangkan 20 ha lainnya masih bisa terairi dengan adanya sumur bor.

Karena itu, Syamsul berharap pemerintah memberikan bantuan sumur bor dan alat mesin pertanian (alsintan) lainnya, seperti traktor dan combine harvester. Saat banyak alsintan milik petani sudah cukup tua, karena dipakai sejak tahun 2016.

”Kami berterima kasih kepada pemerintah atas perhatiannya dan bantuan yang diberikan. Semoga bermanfaat bagi kami dan petani lainnya,” ujarnya.

Menanggapi kondisi kekeringan yang dialami petani, Suwandi menegaskan, tidak ada solusi lain, kecuali usul sumut bor, karena di lokasi ini tidak ada sumber air lainnya, Bisa lihat di lokasi ini ada lahan seluas 70 ha yang petaninya berspekulasi menanam padi pada musim tanam kedua ini, hanya sekitar 20 ha yang bisa terairi dan 50 ha lainnya kering, bahkan sudah lahannya sudah tumbuh alang-alang,” kata Suwandi.

Menurutnya, kondisi persemaian juga sangat memprihatinkan.

Petani sampai melakukan pesemaian padi dua kali, tapi juga tidak ada air. Karena itu, solusinya pompa sumur bor untuk membantu petani agar bisa melakukan tanam.

”Tidak ada solusi lain, Sungai Pajentan yang ada di sekitar lahan petani memang tidak ada airnya.  Jadi mau di pompa pun tidak ada airnya. Karena itu untuk dipompa perlu ada sumur bor dengan kedalaman sekitar 70 meter yang menurut informasi di dalam tanah ada aliran sungai tanah,” tutur Suwandi. 

Suwandi berharap usul bantuan irigasi perpompaan berupa sumur bor ini sudah bisa masuk dalam pembagian tahap kedua. Di Kabupaten Bangkalan sudah dialokasikan ada sekitar 78 titik sumur bor.

 ”Minggu depan diharapkan sudah terpasang 30 titik, sehingga perlu waktu dua minggu untuk bisa sampai 78 titik. Tahap kedua 50 titik yang diusulkan, salah satunya lokasi disini,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Suwandi kembali menegaskan bahwa sesuai arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman untuk kejar Luas Tambah Tanam (LTT) dan mempertahankan produksi padi nasional, salah satu solusinya adalah penyediaan air.

Dengan adanya ancaman kekeringan akibat dampak El Nino, perlu adanya percepatan bantuan irigasi perpompaan. 

”Kita perlu kerja bareng-bareng dalam menghadapi ancaman kekeringan ini. Kalau perlu dana desa yang 20 persen untuk ketahanan pangan, bisa dialokasikan secara sinergi untuk tambahan sumur bor penyediaan irigasi pompanisasi,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Bangkalan, Puguh Santoso mengatakan, Desa Tunjung, Kecamatan Beurneh merupakan salah satu lumbung padi di Kabupaten Bangkalan. Setidaknya ada sekitar 1.000-2.000 ha luas pertanaman padi.

Sementara luas lahan baku sawah di Bangkalan sekitar 29 ribu ha dan lahan tegalan 63 ribu ha.

Dari luas baku sawah tersebut sekitar 8.000 ha merupakan irigasi teknis dan 21 ribu ha lahan tadah hujan. Karena itu, menurut Puguh, untuk meningkatkan indeks pertanaman, salah satu faktor utama adalah air.  

”Ke depan, melalui Dirjen Tanaman Pangan, saya mengharapkan ada tambahan alokasi irigasi perpompaan, maupun alsintan seperti combine harvester dan traktor,” katanya. Dengan bantuan pemerintah, Puguh juga berharap, Provinsi Jawa Timur bisa mempertahankan sebagai nomor satu produksi padi nasional. **

(*/Adv) 

Komentar

You must login to comment...