Nasional

Hari Belanja Online 2026 Akan Segera Digelar, Pemerintah Targetkan Rp40 Triliun

20 jam yang lalu
"Ilustrasi" Hari Belanja Online Nasional 2026. (Foto: iStockphoto)

Radarsuara.com - Pemerintah menargetkan nilai transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2026 mencapai Rp40 triliun. Target tersebut naik dibandingkan capaian Harbolnas tahun sebelumnya yang mencapai Rp36,4 triliun.

Target itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip dari situs resmi Kementerian koordinator Bidang Perekonomian RI, pada Jum'at, 28 Agustus 2026.

“Pada tahun 2026, Harbolnas memasuki tahun ke-14, event ini tidak hanya sebagai ajang diskon tahunan, tetapi juga sebagai gerakan nasional untuk memperkuat produk dalam negeri, meningkatkan inklusi digital, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan,” ungkap Airlangga.

Harbolnas 2026 akan digelar pada 10-16 Desember 2026. Pemerintah berharap peningkatan transaksi tersebut dapat menjadi momentum untuk mendorong daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV.

Penguatan ekonomi digital menjadi salah satu fokus pemerintah dalam mendorong pencapaian target tersebut. Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mendekati 100 miliar dolar AS.

Indonesia juga disebut menjadi pasar video commerce terbesar di Asia Tenggara. Jumlah penjual di sektor tersebut mencapai 800.000, sementara transaksi tumbuh hampir 90 persen menjadi 2,6 miliar transaksi. Pertumbuhan tersebut ditopang penetrasi pengguna aktif media sosial yang telah mencapai lebih dari 180 juta jiwa.

Pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan daya saing produk lokal. Salah satunya melalui pengembangan algoritma rekomendasi yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan konsumen.

Selain itu, integrasi platform e-commerce dengan pasar ekspor terus disiapkan melalui implementasi Digital Economic Framework Agreement (DEFA) di tingkat ASEAN. Kesepakatan tersebut berpotensi meningkatkan nilai pasar digital ASEAN menjadi USD2 triliun, dengan potensi porsi Indonesia mencapai USD600 miliar.

Penguatan transaksi digital juga didukung fasilitas QR Cross-Border (QRIS) antarnegara ASEAN. Pemerintah menyebut fasilitas tersebut memberikan efisiensi bagi pelaku usaha karena tidak membebankan merchant discount rate atau biaya kepada pedagang.

Kebijakan tersebut diharapkan semakin membuka peluang bagi UMKM, termasuk pelaku usaha produk artisan, untuk masuk ke ekosistem digital dan memperluas pasar hingga tingkat global.

“Pemerintah senantiasa berkomitmen dalam mendukung penguatan ekosistem e-commerce nasional melalui penyusunan regulasi yang adaptif, penyediaan infrastruktur digital hingga ke pelosok negeri, serta fasilitasi kolaborasi antara pelaku e-commerce, UMKM, asosiasi industri, dan konsumen,” pungkas Airlangga.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan Road to Harbolnas 2026 menjadi momentum untuk memperkuat daya saing produk dalam negeri di tengah perkembangan teknologi digital.

“Harbolnas 2026 menjadi katalisator penting bagi UMKM lokal untuk mengoptimalkan potensi pasar digital yang kian imersif dan inklusif. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen menjaga iklim usaha digital yang kondusif agar produk-produk buatan dalam negeri semakin menjadi pilihan utama masyarakat,” tegas Haryo.

Editor: Mahipal

Komentar

You must login to comment...