Nasional

Indonesia Didominasi Petani Kecil dengan Lahan Terbatas, FKP Minta Kebijakan Pemerintah Dibuat Berbasis Data

Wednesday, 12 February 2025 10:16 WIB
"Ilustrasi" Pertanian Indonesia. (Foto: iStockphoto)

Radarsuara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menggelar webinar bersama Forum Kajian Pembangunan (FKP) untuk membahas hasil Sensus Pertanian 2023.

Acara tersebut menghadirkan Bayu Dwi Kurniawan sebagai pemateri utama yang menyoroti berbagai tantangan dan peluang dalam sektor pertanian Indonesia.

Webinar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang kondisi pertanian Indonesia berdasarkan hasil sensus terbaru. Data yang dikumpulkan diharapkan menjadi landasan bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan yang lebih akurat dan efektif.

Tantangan Besar di Sektor Pertanian

Bayu Dwi Kurniawan menjelaskan bahwa sektor pertanian Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Salah satunya adalah produktivitas yang masih rendah akibat kurangnya inovasi teknologi. Banyak petani masih mengandalkan metode tradisional, sementara akses terhadap teknologi modern seperti precision farming, drone pertanian, dan sistem irigasi pintar masih terbatas.

Selain itu, fragmentasi kepemilikan lahan juga menjadi masalah serius. Rata-rata petani hanya memiliki lahan kurang dari 1 hektar, yang membuat skala ekonomi sulit dicapai. Kondisi ini menyebabkan efisiensi produksi menurun, sementara biaya operasional tetap tinggi.

"Sebagian besar petani kita adalah petani kecil dengan lahan terbatas. Ini membuat mereka sulit bersaing dalam pasar yang semakin kompetitif. Skema permodalan dan akses ke teknologi harus diperbaiki agar pertanian kita lebih maju," kata Bayu.

Permasalahan lain yang disorot adalah ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida yang tinggi. Hal ini tidak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga terhadap kesehatan tanah dan keberlanjutan produksi jangka panjang. Selain itu, perubahan iklim yang semakin ekstrem juga memperburuk ketahanan pangan nasional.

"Saat ini kita menghadapi ketidakpastian akibat perubahan iklim. Cuaca yang tidak menentu, banjir, kekeringan, hingga serangan hama semakin sering terjadi. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, dampaknya bisa sangat besar terhadap hasil pertanian," tambahnya.

Sensus Pertanian sebagai Kunci Kebijakan yang Akurat

Hasil Sensus Pertanian 2023 memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi pertanian Indonesia saat ini. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah petani, luas lahan, jenis komoditas, penggunaan teknologi, hingga pola distribusi hasil pertanian.

Bayu menjelaskan bahwa data ini akan digunakan dalam berbagai tahapan pembangunan pertanian, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga pengendalian. Dengan data yang akurat, kebijakan yang dibuat akan lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

"Dengan data ini, pemerintah bisa membuat kebijakan yang lebih presisi. Misalnya, daerah mana yang membutuhkan subsidi pupuk lebih banyak, atau bagaimana pola distribusi pangan bisa diperbaiki agar lebih efisien," jelasnya.

Selain itu, Bayu menekankan pentingnya transformasi sistem pertanian agar lebih inovatif, berdaya saing, tangguh, dan berkelanjutan. Sensus ini menjadi dasar informasi yang kuat untuk mewujudkan transformasi tersebut.

Publikasi Hasil Sensus dan Langkah Selanjutnya

Sebagai langkah konkret, BPS akan merilis laporan bertajuk Potensi Pertanian Indonesia: Peta Baru Pertanian Berkelanjutan pada 30 September 2024. Publikasi ini akan memuat analisis mendalam berdasarkan data yang telah dikumpulkan, termasuk rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan oleh pemerintah dan sektor swasta.

Dokumen ini bisa diakses melalui situs resmi BPS dan akan menjadi referensi utama bagi pemangku kebijakan, akademisi, serta pelaku usaha di sektor pertanian.

"Kita berharap dengan adanya data yang lebih akurat, sektor pertanian Indonesia bisa lebih siap menghadapi tantangan global dan memastikan ketahanan pangan nasional di masa depan," pungkas Bayu.

Dengan adanya hasil sensus ini, diharapkan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dapat bekerja sama dalam menciptakan ekosistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Sektor pertanian yang kuat bukan hanya berdampak pada perekonomian nasional, tetapi juga pada kesejahteraan petani serta ketahanan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Editor: Mahipal

 

Komentar

You must login to comment...