Pertanian dan Peternakan

Perkuat Fondasi Riset Strategis 2025, Kementan Dorong Inovasi Berdampak Nyata bagi Swasembada Pangan Nasional

Monday, 24 November 2025 13:58 WIB
Perkuat Fondasi Riset Strategis 2025, Kementan Dorong Inovasi Berdampak Nyata bagi Swasembada Pangan Nasional (Foto: Dok. Kementan)

Radarsuara.com - Pusat Pendidikan (Pusdiktan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) menyelenggarakan Seminar Hasil dan Laporan Akhir Penelitian Strategis Tahun Anggaran 2025, bertempat di Wisma Pertanian Cipayung, kegiatan ini berlangsung 19-21 November 2025. 

Acara ini menjadi forum evaluasi krusial yang bertujuan memastikan hasil riset memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung program strategis Kementerian Pertanian, khususnya swasembada pangan dan inisiatif Kampus Berdampak.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyampaikan apresiasinya. “Riset adalah fondasi dari pertanian modern. Saya bangga karena dosen-dosen Polbangtan terus menghasilkan inovasi strategis yang bisa langsung diimplementasikan di lapangan. Hasil penelitian ini harus mampu menjawab tantangan produksi pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Kementan akan selalu mendukung penguatan riset dan pendidikan vokasi pertanian.”

Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya keberlanjutan dan pemanfaatan hasil penelitian. “Penelitian strategis ini bukan hanya memenuhi kebutuhan akademik, tetapi harus memberikan dampak nyata bagi sistem penyuluhan dan pembangunan SDM pertanian. Kami berharap Polbangtan terus menjadi motor penggerak inovasi, dengan riset yang terhubung langsung ke kebutuhan petani, penyuluh, serta dunia usaha.”

Acara dibuka dengan arahan dan sambutan dari Kepala Pusdiktan, Muhammad Amin, yang secara tegas menekankan bahwa luaran penelitian strategis harus menghasilkan dampak atau manfaat nyata yang langsung diterima oleh para pemangku kepentingan (stakeholder), mulai dari pengambil kebijakan hingga petani di lapangan. Beliau juga mendorong Tim Reviewer untuk memberikan penguatan dari segi teknis agar riset benar-benar aplikatif.

“Pusdiktan berupaya keras meningkatkan kualitas pendidikan melalui karya tulis para peneliti kami. Hasil penelitian harus segera mungkin didesiminasikan dan menjadi masukan yang konstruktif bagi pengambil kebijakan dan petani,” ujar Amin.

Tiga penelitian yang direviu pada sesi awal merupakan penelitian dengan Ketua Penelitian Lukman Effendy, Ananti, Nurhayati  dan Ugik menunjukkan komitmen pada solusi praktis. Salah satu fokus utama adalah penelitian mengenai peran Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebagai Titik Serap Bersubsidi. Riset ini mencakup lima provinsi dan melibatkan 32 Gapoktan, yang bertujuan memperkuat kelembagaan petani dalam distribusi pupuk. 

Arsyad dan Dedi Nursyamsi yang bertindak sebagai Reviewer menyoroti perlunya penyusunan indikator kriteria Gapoktan yang layak untuk menerima pupuk bersubsidi agar tepat sasaran, serta perumusan model pemberdayaan Gapoktan yang efektif dan praktis. Selain itu pentingnya mengintegrasikan data riset dengan Sistem Informasi Pertanian yang ada, seperti Simultan demi validitas kebijakan.

Fokus kedua adalah pada Inovasi Teknologi Pertanian Ramah Lingkungan. Riset di bidang keteknikan dan peternakan ini mendapatkan apresiasi tinggi (disebut excellent oleh Dedi Nursyamsi) dan diarahkan untuk mendukung Pertanian Modern yang bercirikan mekanisasi, smart farming, dan TIK. 

Di sektor Energi Terbarukan, penelitian Erni dan Budi mengenai penggunaan solar panel untuk sistem irigasi, yang bertujuan menggantikan diesel, diapresiasi karena berpotensi menghemat biaya bahan bakar hingga 50%. Inovasi ini sangat relevan untuk daerah yang minim akses listrik, seperti NTT, dan diarahkan untuk dapat diproduksi secara massal. 

Lebih lanjut, penelitian Budi yang menguji daun nangka sebagai Antelmetika Nabati atau alternatif pestisida untuk peternakan ramah lingkungan ditekankan agar tidak hanya berakhir di jurnal, tetapi segera menjadi saran kebijakan untuk menggantikan bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan dan menimbulkan resistensi. 

Sementara itu, Riset Ramli mengenai Budidaya Padi Lahan Rawa dengan media air dan rakit apung menawarkan solusi nyata terhadap permasalahan banjir, dengan potensi dikembangkan lebih lanjut menjadi demplot pilot project.

Iwan dan Haris Bahrun sebagai reviewer menyampaikan penelitian yang dilakukan sangat bagus temuan yang terjadi memberikan kemanfaatan yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Awang menegaskan kunci dari penelitian ilmiah adalah konsistensi.

Arsyad menambahkan, topik riset harus tetap berpegangan pada trisula strategis Kementan: Pangan, Energi, dan Air, serta memperkuat fungsi koordinasi kelembagaan riset di bawah Badan Pembangungan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDM).

Dewi Darmayanti sebagai ketua Kelsi Kerjasama, Riset, dan Pengabdian masyarakat menegaskan komitmennya agar segera menindaklanjuti masukan dari reviewer. Dalam waktu dua minggu, tim peneliti diwajibkan menyerahkan Rekomendasi Kebijakan yang telah disempurnakan sebelum diajukan kepada Kepala Badan dan pimpinan Kementerian Pertanian. (*/Adv)

 

Komentar

You must login to comment...