Pertanian dan Peternakan

Produktivitas Pertanian Merosot Akibat Kenaikan Suhu Bumi, Pakar UGM Soroti Dampak dan Solusi

Wednesday, 26 March 2025 10:41 WIB
"Ilustrasi" pertanian. (Foto: iStockphoto)

Radarsuara.com - Perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu bumi semakin mengancam sektor pertanian global, termasuk Indonesia. Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan bahwa tahun 2024 mencatat kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri, menjadikannya tahun terpanas dalam satu dekade terakhir. 

Jika tidak ada langkah mitigasi yang tepat, kondisi ini berpotensi memperburuk krisis pangan, memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi, serta mengancam ketahanan pangan nasional.

Pakar pertanian dan perubahan iklim dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan bahwa peningkatan suhu berdampak negatif terhadap tanaman pangan. 

Banyak tanaman mengalami gagal panen akibat suhu yang lebih tinggi, penyebaran hama yang meluas, serta gangguan metabolisme yang menghambat pertumbuhan dan kualitas hasil panen.

“Semua komoditas pertanian terdampak, karena setiap tanaman memiliki kondisi lingkungan ideal untuk tumbuh optimal. Misalnya, teh dan kopi yang tumbuh di daerah pegunungan membutuhkan suhu 13-25°C, sementara padi membutuhkan suhu 20-33°C. Jika suhu meningkat melebihi ambang batas, tanaman bisa mengalami kerusakan,” ujar Bayu, dikutip Rabu, 26 Maret 2025.

Selain memengaruhi pertumbuhan tanaman, kenaikan suhu juga mengganggu pola tanam dan masa panen petani. Bayu yang juga Tenaga Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menegaskan bahwa petani perlu beradaptasi dengan menanam varietas yang lebih tahan suhu tinggi dan hemat air.

“Kita tidak bisa lagi menerapkan pola tanam seperti biasa. Dengan suhu yang lebih tinggi, tanaman membutuhkan lebih banyak air, sehingga jadwal tanam dan panen menjadi tidak menentu,” tambahnya.

Dampak perubahan iklim juga dirasakan dalam kualitas hasil panen. Peningkatan suhu dapat menyebabkan perubahan dalam pertumbuhan tanaman, seperti percepatan atau penundaan berbunga, perubahan ukuran buah, serta tekstur yang lebih keras. 

Selain itu, kadar protein dan nitrogen dalam tanaman seperti kedelai juga menurun, yang berakibat pada berkurangnya nilai gizi pangan yang dikonsumsi masyarakat.

Bayu menegaskan bahwa tanpa langkah mitigasi yang tepat, krisis pangan dapat memicu lonjakan harga bahan pokok, menurunkan daya beli masyarakat, dan berpotensi menimbulkan ketidakstabilan sosial dan ekonomi di tingkat nasional. 

Oleh karena itu, ia menyoroti pentingnya inovasi teknologi dan adaptasi dalam sistem pertanian untuk menghadapi tantangan ini.

Langkah-langkah seperti reboisasi, penanaman varietas yang lebih toleran terhadap suhu tinggi, serta penggunaan teknologi pertanian seperti greenhouse dan plant factory dinilai bisa menjadi solusi. Namun, menurut Bayu, penerapan teknologi ini masih terkendala oleh biaya yang tinggi.

Dalam menghadapi ancaman ketahanan pangan, akademisi dan pemerintah memiliki peran penting. Akademisi harus terus mengembangkan varietas yang lebih tahan suhu tinggi, sementara pemerintah perlu meningkatkan pendampingan bagi petani agar mereka dapat menyesuaikan pola tanam. 

Penyuluhan mengenai teknik bertani yang lebih adaptif, seperti hidroponik dan pemanfaatan lahan pekarangan, juga harus diperkuat.

“Dengan begitu, ketahanan pangan nasional dapat tetap terjaga dalam jangka panjang, baik dari segi ketersediaan bahan pangan, distribusi yang merata ke seluruh daerah, maupun kualitas hasil pertanian yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat di negeri ini,” pungkasnya.

Editor: Mahipal

Komentar

You must login to comment...