Pertanian dan Peternakan

Inovatif! Peneliti UGM Ubah Batu Bara Jadi Solusi Pertanian Berkelanjutan

Saturday, 02 November 2024 19:27 WIB
Tim peneliti UGM berhasil kembangkan Gamahumat, ubah batu bara kalori rendah jadi pembenah tanah. (Dok: ugm.ac.id)

Radarsuara.com - Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan Gamahumat, sebuah produk inovatif yang mengubah batu bara kalori rendah menjadi pembenah tanah.

Produk itu diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah batu bara yang tidak cocok digunakan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan mendukung sektor pertanian di Indonesia.

Prof. Ferian Anggara, guru besar termuda Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM sekaligus ketua tim peneliti, menjelaskan bahwa Gamahumat dibuat dari senyawa humat hasil ekstraksi batu bara kalori rendah, berupa asam humat dan asam fulvat. 

Ia menjelaskan bahwa produk ini dapat mengurangi penggunaan pupuk hingga 80 persen tanpa mengurangi produktivitas tanaman. 

"Hasil panen dapat mendekati layaknya produktivitas padi yang sepenuhnya menggunakan NPK dan urea," ujar Ferian kepada wartawan, dikutip Sabtu, 2 Novber 2024.

Indonesia sendiri memiliki sumber daya batu bara kalori rendah yang melimpah, mencapai 30 persen. Guna memastikan pasokan bahan baku, Ferian menggandeng PT Bukit Asam, perusahaan yang memiliki cadangan batu bara peringkat rendah yang teruji. 

Kerja sama ini dimulai sejak 2018 dan berlanjut pada 2023 dengan dukungan pendanaan matching fund Kedaireka untuk pengembangan lebih lanjut. 

“Saat ini, alat tersebut mampu memproduksi 20 liter senyawa humat basah per hari dari 5 kg batu bara umpan,” jelasnya.

Tim peneliti UGM ini kini berencana mengembangkan Gamahumat hingga skala komersial, dengan pabrik yang akan dibangun di Riau pada 2025 mendatang.

Pabrik tersebut ditargetkan mampu memproduksi hingga 60 ton senyawa humat per tahun di lokasi izin usaha pertambangan PT Bukit Asam. 

“Obsesi kami sebagai peneliti adalah bagaimana kami bisa mengoptimalkan pemanfaatan hasil pertambangan sehingga memiliki nilai tambah tinggi dengan konsep ekonomi sirkular,” ungkap Ferian.

Selain Gamahumat, tim peneliti juga mengembangkan produk inovatif seperti nanosilika dan hidrogel yang membantu meningkatkan produktivitas lahan miskin unsur hara dan mendukung pertumbuhan tanaman di lahan sulit air. 

“Penggabungan produk ini menyasar pada lahan yang kekurangan unsur hara agar dapat ditanami dan ditingkatkan produktivitasnya,” imbuhnya.

Editor: Mahipal

Komentar

You must login to comment...