Guru Besar UGM Tekankan Pentingnya Peran Pemuda dan Inovasi Teknologi untuk Selamatkan Pertanian Indonesia
Friday, 01 November 2024 09:27 WIB
"Ilustrasi" pemuda dan inovasi teknologi jadi kunci keselamatan pertanian di Indonesia. (Istimewa)
Radarsuara.com - Bidang pertanian sebagai sektor strategis yang mendukung kedaulatan negara menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait rendahnya partisipasi generasi muda. Dominasi petani berusia tua yang tidak lagi produktif menambah kompleksitas masalah ini.
Prof. Subejo, Guru Besar Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian UGM, menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan yang unggul untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja pertanian saat ini.
"Implikasinya jumlah petani tua yang dominan ini ada dua, di satu sisi keprihatinan, tapi di sisi lain ini ruang baru," ujar Subejo, dikutip Jum'at, 1 November 2024.
Ia menyatakan bahwa generasi muda dengan pengetahuan yang luas dan akses informasi mampu membawa perubahan, baik dalam produktivitas maupun inovasi pertanian, termasuk mengembangkan wisata edukatif seperti wisata panen kopi atau petik buah.
Prof. Subejo juga mendorong penerapan cyber extension untuk mempercepat penyuluhan pertanian melalui teknologi informasi.
“Kalau kita dorong pasti manfaatnya sangat besar, contohnya seperti adanya DESA (Digital Extension Society for Agriculture) apps ini,” ujarnya.
Selain itu, inovasi lokal seperti pengembangan semangka non biji di Sleman menunjukkan bahwa kolaborasi dengan kelompok masyarakat setempat dapat mendorong produktivitas.
Sejalan dengan Prof. Subejo, Tumpal Gultom, seorang petani milenial asal Kabupaten Gunungkidul, berbagi kisah suksesnya membangun kebun edukatif dan produksi sayur dengan metode tanam modern seperti hidroponik dan aquaponik.
“Produk pertanian akan selalu dibutuhkan karena jumlah manusia dan kebutuhan pangan meningkat, tetapi jumlah petani semakin menurun,” ujar Tumpal.
Selain bercocok tanam, Tumpal juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan YouTube untuk mengedukasi masyarakat. Dengan pengikut lebih dari 600.000 orang, ia berhasil menjadikan hobinya sebagai peluang bisnis yang berkelanjutan.
"Anak muda sebagai petani sekarang tidak hanya menanam dan panen sayuran, tetapi bisa juga menjual jasa seperti jasa pembuatan aquaponik, menjual edukasi pertanian, wisata pertanian, dan membuat konten di sosial media hingga dapat termonetisasi," ungkapnya.
Tumpal menegaskan bahwa pemanfaatan media sosial tidak hanya berperan dalam membangun branding, tetapi juga memudahkan akses pasar dan relasi tanpa ketergantungan pada tengkulak.
“Jangkauan dan relasi banyak kami dapatkan dari sosial media, bahkan hingga kementerian pertanian. Tidak perlu memiliki saudara yang bekerja di sana,” pungkasnya.
Editor: Mahipal
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023