Pertanian dan Peternakan

BRIN Latih Warga Yogyakarta Budidaya Anggrek untuk Konservasi dan Ekonomi

Saturday, 07 September 2024 14:39 WIB
Pelatihan budidaya anggrek alam di Desa Purwosari dan Nglanggeran, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Dok: brin.go.id).

Radarsuara.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) menggelar pelatihan budidaya anggrek alam di Desa Purwosari dan Nglanggeran, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan berbagai jenis anggrek kepada masyarakat, serta memberikan pemahaman tentang cara memelihara dan memperbanyak anggrek sebagai langkah konservasi. 

“Pelatihan ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami jenis-jenis anggrek yang ada di wilayahnya serta bagaimana cara merawatnya,” ujar Istiana Prihatini, Ketua Tim Konservasi Anggrek BRIN, dikutip pada Sabtu, 7 September 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program konservasi anggrek alam Yogyakarta yang didanai oleh Alumni Research Support Facility (ARSF), Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dalam eksplorasi yang dilakukan sebelumnya, ditemukan 25 jenis anggrek alam di Nglanggeran dan 21 jenis di Purwosari. 

“Anggrek-anggrek ini akan dikembalikan kepada masyarakat setempat dan dapat dipelihara di fasilitas greenhouse yang telah disediakan,” jelas Muhammad Imam Surya, Kepala PRBT BRIN. 

Imam menambahkan bahwa selain nilai konservasi, anggrek juga memiliki potensi ekonomi jika dibudidayakan dengan baik.

Peserta pelatihan, yang terdiri dari warga lokal, diberikan materi tentang teknik polinasi bunga, media tanam yang tepat, penggunaan fungisida dan pupuk, serta teknik perbanyakan melalui stek dan splitting.

Aninda Retno Utami, salah satu narasumber dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, menjelaskan pola pertumbuhan anggrek, baik yang monopodial maupun sympodial.

“Anggrek monopodial tumbuh ke atas dan dapat diperbanyak melalui stek, sedangkan anggrek sympodial tumbuh menyamping dan diperbanyak dengan splitting,” terang Aninda. 

Selain itu, peserta juga diajarkan cara mengaklimatisasi bibit anggrek yang baru diambil dari botol kultur jaringan.

Riset lebih lanjut terkait potensi bioprospeksi anggrek di wilayah ini juga sedang dilakukan. "Kami berencana meneliti kandungan anggrek-alam yang mungkin memiliki manfaat selain sebagai tanaman hias," ujar Latifa Nuraini, Peneliti PRBT BRIN.

Nur Ikhsan, peserta dari Desa Nglanggeran, menyambut positif pelatihan ini. Ia berharap anggrek dapat menjadi daya tarik tambahan bagi desanya yang sudah dikenal sebagai destinasi wisata. 

Harapan serupa juga diungkapkan Sri Murtini, Lurah Desa Purwosari, yang berharap anggrek bisa menjadi suvenir khas desa wisata dan budaya di Purwosari.

“Warga harus turut melestarikan anggrek di kebun dan menggunakan fasilitas greenhouse untuk melindungi mereka,” tegas Sri Murtini.

Editor: Mahipal

Komentar

You must login to comment...