Siaga Virus ASF, Pemkab Jayapura Dorong Peternak Patuhi Protokol Kesehatan Ternak
Tuesday, 04 June 2024 16:00 WIB
Pj Bupati Jayapura, Triwarno Purnomo. (Dok: jayapurakab.go.id)
Radarsuara.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura, berupaya meminimalisir ancaman virus African Swine Fever (ASF) yang kini mulai menyerang hewan ternak, terutama pada babi.
ASF, yang sangat menular pada babi itu menyebabkan perdarahan internal dan memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Penyakit ini disebabkan oleh virus DNA dengan untai ganda dari genus Asfivirus dan famili Asfarviridae.
Pemkab Jayapura pun memberikan imbauan kepada para peternak babi untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengantisipasi penularan dengan menerapkan protokol kesehatan ternak.
"Para peternak babi diharapkan mematuhi petunjuk-petunjuk protokol kesehatan dari petugas lapangan yang menangani penyakit ASF," ujar Pj Bupati, Triwarno Purnomo dikutip Selasa 4 Juni 2024.
ASF virus sendiri memiliki ketahanan yang tinggi terhadap lingkungan, mampu bertahan hidup dalam berbagai kondisi termasuk dalam darah, daging, dan kandang babi.
Purnomo mengungkap ada dua kampung yang terancam virus tersebut. Yakni di Distrik Sentani Timur yaitu Kampung Ayapo dan Nolokla. Dua wilayah ini telah mendapat perhatian khusus. Koordinasi pun sudah dilakukan dengan serius terkait masalah peternakan ini.
"Kami telah berkoordinasi dengan kepala dinas terkait, dan obat-obatan telah disiapkan. Namun, obat-obatan ini ditujukan untuk hewan ternak babi yang belum terinfeksi virus ASF," jelas Purnomo.
Selain itu, Purnomo juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi daging babi yang sudah mati. Ia menekankan pentingnya untuk segera mengubur atau membakar babi yang telah mati.
Tujuannya adalah untuk menghentikan penyebaran ASF. "Penting untuk segera mengubur atau membakar babi yang telah mati guna mencegah penyebaran lebih lanjut," tegasnya.
Sekedar informasi, penyakit ASF memiliki tanda klinis yang dapat dikenali seperti demam tinggi, depresi, penurunan nafsu makan, kemerahan pada telinga, perut, dan kaki, serta keguguran pada induk yang bunting dan kematian dalam waktu 6 hingga 13 hari.
Meskipun penyakit ini tidak menular ke manusia, namun Purnomo mengingatkan masyarakat akan pentingnya untuk menghindari konsumsi daging babi dari wilayah yang telah terinfeksi virus ASF.
Penulis : Mahipal
Editor : Khaerul Umam
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023