Pertanian

Amankan Produksi Padi di banten, Kementan Lakukan Gerakan Pengendalian Wereng Coklat

Selasa, 21 Mei 2024 21:39 WIB
Amankan Produksi Padi di banten, Kementan Lakukan Gerakan Pengendalian Wereng Coklat (Foto : Dok. Kementan)

Radarsuara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan terus mengupayakan pengamanan produksi padi dari serangan Wereng Batang Cokelat (WBC).

Sebagai tindak lanjut peningkatan populasi WBC di lapangan, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan memperkuat sinergi dengan Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) sebagai perpanjangan tangan di daerah, untuk mengintensifkan pengamatan dan memasifkan gerakan pengendaliannya. 

Seperti halnya di Banten, berdasarkan hasil pengamatan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan, terjadi serangan WBC di Kabupaten Pandeglang dan Lebak, Provinsi Banten.

Menyikapi hal tersebut, gerakan pengendalian kembali digalakkan, mencakup 3 desa di 3 kecamatan berbeda yaitu Desa Cikentrung Kecamatan Cadasari, Desa Teluk Kecamatan Labuan, dan Desa Marga Jaya Kecamatan Cimarga (15/5). Turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut tim BPTPH Banten, tim Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Wilayah 2 Pandeglang, POPT pendamping, dan petani setempat. 

Merespon hal ini, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menyatakan pandangannya bahwa gerakan pengendalian akan efektif jika semua pihak terkait saling bersinergi dengan tujuan yang sama yaitu menurunkan tingkat serangan dan mencapai target produksi pangan.

“Kita itu lebih kuat jika kita bekerja sama. Kegiatan pengendalian hama di lapangan pun tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kaitannya dengan pengamanan pertanaman, semua upaya ini tidak efektif jika hanya pemerintah pusat yang turun. Pemerintah daerah pun harus turut aktif merangkul dan membersamai petani di setiap langkahnya dalam mengamankan pertanaman," jelas Suwandi. 

“Hal ini tentunya sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang menginstruksikan kepada seluruh jajarannya untuk peka terhadap kondisi petani. Pemerintah siap membantu petani mengamankan pertanamannya melalui kegiatan seperti gerakan pengendalian, penyediaan sarana atau bahan pengendali, serta bimbingan teknis petani. Harapannya petani kita semakin semangat dan termotivasi untuk menjaga produksi,” sambung Suwandi. 

Menyambung arahan tersebut, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Rachmat mengungkapkan bahwa output yang diharapkan dari kegiatan pengendalian ini adalah OPT terkendali, produksi tinggi, dan petani tidak merugi.

“Harapan kami, upaya pengendalian wereng ini berhasil menurunkan populasi. Untuk melihat berhasil tidaknya pengendalian, tentunya harus kembali diamati dan dievaluasi hasil gerdalnya nanti.

Kita tidak cukup pengendalian saja, tapi pastikan pengendalian ini dapat menurunkan populasi. Amati dinamika populasinya dan kendalikan hama ini secara serentak di titik-titik kritis untuk mencegah hama ini migrasi dan meluas,” tegas Rachmat. 

Ditemui di lapangan, koordinator LPHP Wilayah II Pandeglang, Budi Suharno menyatakan kesiapannya untuk terus mendampingi petani dan waspada akan perkembangan hama dan penyakit di lapangan.

“Wereng ini kan hama yang dinamis, jadi harus terus diamati dan jangan sampai kecolongan. Jika sudah ada peningkatan populasi, langsung kita kendalikan. Saya sudah himbau petani dan POPT setempat untuk jeli dengan peningkatan wereng di lapangan. Amati, Kenali, dan Kendalikan,” jelas Budi. 

Selaras dengan pernyataan Budi, Ratu Desi, POPT setempat mengungkapkan kesiapsiagaannya membimbing petani mengendalikan wereng di pertanaman.

“Kami sudah arahkan petani untuk waspada terhadap populasi wereng dari umur tanaman muda agar populasinya tetap di bawah ambang kendali, tidak meningkat, dan tidak mengakibatkan kerusakan pada pertanaman. Kami juga arahkan petani untuk rutin melakukan pengamatan saat populasi yang ada belum menyebabkan intensitas serangan, supaya dapat dilalukan upaya pengendalian yang tepat dan efektif,” pungkas Desi. 

Gerakan pengendalian OPT yang difasilitasi oleh pemerintah pusat ini tentunya hanya bersifat stimulan.

Jadi, petani diharapkan dapat menduplikasinya untuk cepat tanggap melakukan pengendalian swadaya secara serentak dengan tujuan mengamankan pertanamannya.

(*/Adv)

Komentar

You must login to comment...