Pertanian dan Peternakan

Program Electrifying Agriculture Bantu Majukan Pertanian di Jawa Timur

Sunday, 28 April 2024 15:00 WIB
Jaringan Listrik untuk memajukan sektor pertanian. (Dok.jatimprov.go.id)

Radarsuaara.com - Provinsi Jawa Timur (Jatim) menjadi salah satu daerah yang mendapatkan program Electrifying Agriculture dari PT PLN (Persero).

Program untuk memudahkan akses listrik bagi para pelaku sektor usaha pertanian ini didapatkan Jatim di Kelompok Tani Mekar Sari, Desa Sukorejo, Ponorogo.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim mencatat peningkatan pemanfaatan lahan pertanian di Kabupaten Ponorogo mencapai 70 juta hektare, yang turut mendukung Ketahanan Pangan Nasional.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Dydik Rudi Prasetya mengatakan, kehadiran listrik PLN sangat membantu sistem pengairan yang menggunakan sumur dalam.

"Masuknya listrik ke area pesawahan sangat penting karena membantu kebutuhan pengairan para petani. Saat ini, Ponorogo telah masuk menjadi objek Panen Raya IP 200, IP 300, dan IP 400," terang Dydik, Minggu 28 April 2024.

General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur, Agus Kuswardoyo, menjelaskan bahwa elektrifikasi di sektor pertanian merupakan salah satu program ekstensifikasi yang dilakukan PLN.

"PLN siap melayani kebutuhan kelistrikan dari berbagai sektor, termasuk pertanian, perikanan, industri, dan lainnya. Di sektor pertanian Jawa Timur, terdapat 150.801 pelanggan dengan total daya tersambung 1.202 MVA," ungkapnya.

Agus menambahkan bahwa jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat potensi elektrifikasi di sektor pertanian tidak hanya menyasar subsektor tanaman pangan, melainkan juga peternakan dan perkebunan seperti buah naga, buah jeruk, dan lainnya.

"Hingga 20 April 2024, pelanggan pertanian di Kabupaten Ponorogo mencapai 13.967, dengan total daya mencapai 53.020.650 VA," tambahnya.

Menurutnya, penambahan jumlah pelanggan electrifying agriculture di Ponorogo menunjukkan tren positif peralihan dari pompa air berbahan bakar diesel menjadi pompa air listrik yang lebih efisien.

Ketua Kelompok Tani Mekar Sari, Gatot (59), menyampaikan bahwa dengan hadirnya listrik masuk ke persawahan, biaya operasional dapat lebih hemat.

"Dengan menggunakan pompa listrik, kami para petani dapat menghemat pengeluaran operasional sekitar 150% dibandingkan dengan menggunakan pompa diesel," jelasnya.

Dia juga menambahkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pompa diesel biasanya mencapai Rp1.500.000, tetapi dengan pompa listrik, biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp500.000, yang tentunya dapat meningkatkan produksi pertanian.

Penulis: Asep Supriyanto

Editor: Khaerul Umam

Komentar

You must login to comment...