Pertanian dan Peternakan

Hidroponik Bayam Diyakini Indonesia Sebagai Solusi Hadapi Greenflation

Friday, 26 April 2024 10:00 WIB
Ilustrasi hidroponik bayam (Dok.Pixabay)

Radarsuara.com - Pemerintah Indonesia merespon cepat isu Greenflation atau inflasi hijau yang kini telah menjadi perhatian dunia.

Fenomena yang diprediksi dapat mengancam berbagai negara, termasuk Indonesia itu disikapi dengan sebuah terobosab sebagai antisipasi terjadinya inflasi yang bisa terjadi akibat tingginya permintaan masyarakat akan produk dan layanan ramah lingkungan yang berkelanjutan, namun tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang memadai tersebut.

Situs resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia bahkan intens membahas isu tersebut. Salah satu artikel yang dipublikasikan berjudul 'Hidroponik Bayam: Solusi Alternatif Menghadapi Greenflation'.

Ditulis oleh Siti Kusuma Wuryanti, seorang UI/UX Designer dari Jalin Pembayaran Nusantara, Siti menyampaikan bahwa Greenflation adalah konsekuensi dari transisi energi yang bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim.

"Konsep transisi energi mencakup pergeseran penggunaan dari sumber energi konvensional ke energi hijau, yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mengatasi perubahan iklim," tulisnya dikutip Jumat, 26 April 2024.

Dia menegaskan bahwa Greenflation dapat mempengaruhi sektor ekonomi dan lingkungan, khususnya dalam bidang pertanian.

"Penting untuk memahami bagaimana greenflation mempengaruhi dinamika ekonomi dan lingkungan, terutama dalam sektor pertanian dan pangan agar dapat mengatasi permasalahan ketersediaan pangan dan keterbatasan lahan pertanian melalui pengembangan inovasi metode pertanian," lanjutnya.

Menurut Siti Kusuma, ia menilai bahwa hidroponik bayam dapat menjadi solusi bagi Indonesia dalam menghadapi greenflation.

"Salah satu metode pertanian yang paling efisien dan ramah lingkungan adalah pertanian bayam hidroponik dengan mengurangi penggunaan pestisida dan herbisida serta menghilangkan kebutuhan akan tanah tradisional," jelasnya.

Dia menjelaskan bahwa hidroponik bayam tidak memerlukan lahan tanah yang semakin langka, serta minim dampak lingkungan.

"Pertanian bayam hidroponik memiliki keunggulan besar karena penggunaan input yang lebih efisien, kurangnya ketergantungan pada tanah yang semakin langka, dan kemampuan untuk memproduksi hasil tanaman yang bagus dengan lebih sedikit dampak lingkungan," ungkapnya.

Siti Kusuma juga mengingatkan pentingnya strategi yang berfokus pada pengurangan risiko perubahan harga dan permintaan pasar, sehingga hidroponik bayam bukan hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga membantu sektor perekonomian.

"Sektor pertanian bayam hidroponik harus menerapkan strategi yang berfokus pada ketahanan dan adaptasi serta mengurangi risiko yang terkait dengan perubahan harga dan permintaan pasar," pungkasnya.

Penulis : Mahipal

Editor : Khaerul Umam 

Komentar

You must login to comment...