Pertanian dan Peternakan

Dosen UGM Harap Pemerintah Beri Gelar Pahlawan Pangan untuk Petani

Wednesday, 03 April 2024 10:00 WIB
Ilustrasi pertanian (Dok.Pixabay)

Radarsuara.com - Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho menyuarakan harapannya terhadap pemerintah untuk menganugerahkan gelar pahlawan pangan terhadap para petani.

Sebagai seorang akademisi, Bayu mengungkapkan keinginannya agar para petani di pedesaan diangkat sebagai pahlawan karena peran penting mereka dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Tidak hanya itu, Bayu juga berharap pemerintah setelah Jokowi dapat meningkatkan kesejahteraan para petani.

"Dengan mengangkat petani dari kemiskinan dan memberi mereka gelar pahlawan pangan, adalah tugas besar yang harus dihadapi oleh pemerintah yang akan dilantik nantinya pada bulan Oktober," kata Bayu, Rabu 3 April 2024.

Bayu yang juga merupakan pengamat pertanian dan ahli dalam bidang Agrometeorologi, Ilmu Lingkungan dan Perubahan Iklim di UGM itu menyatakan bahwa pemerintahan sebelumnya telah meluncurkan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengatasi kemiskinan petani.

Program-program tersebut meliputi intensifikasi pertanian, yang mencakup penggunaan bibit unggul, perbaikan saluran irigasi, dan penggunaan pupuk, serta program pendampingan dan penyuluhan yang luas untuk kelompok tani.

Namun, menurutnya, belum ada program yang berhasil secara menyeluruh meningkatkan taraf hidup petani. Meskipun, dia mengakui bahwa masalah pertanian adalah masalah yang rumit dan beragam di setiap wilayah.

"Dalam hal regenerasi petani, data dari Badan Pusat Statistik tahun 2020 menunjukkan bahwa 64,50 juta orang Indonesia berada dalam kelompok usia muda. Namun, hanya 21 persen dari mereka yang bekerja di sektor pertanian," ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang bekerja di sektor industri manufaktur (24 persen) dan industri jasa (55 persen). Ada beberapa alasan mengapa persentase pemuda yang bekerja di sektor pertanian rendah.

"Pertama, adalah ketergantungan pada alam dan yang kedua, masalah pendapatan yang rendah. Orang tua petani sering kali melarang anak-anak mereka untuk mengikuti jejak mereka menjadi petani, yang semakin memperumit masalah ini," terangnya.

Bayu juga mencatat bahwa dalam beberapa kasus, orang tua petani terpaksa menjual lahan mereka untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Mereka berharap anak-anak mereka akan mendapat nasib yang lebih baik jika memiliki pendidikan tinggi.

"Orang tua menginginkan anak-anak mereka menjadi Pegawai Negeri Sipil atau profesi lain setelah menyelesaikan pendidikan mereka. Ini adalah realitas yang dihadapi oleh masyarakat saat ini," tandasnya.

Penulis : Mahipal

Editor : Khaerul Umam 

Komentar

You must login to comment...