Peternakan Ayam Miliki Peran Atasi Stunting, BRIN Harap Biaya Pakan Ternak Impor Bisa Ditekan
Wednesday, 27 March 2024 11:00 WIB
Ilustrasi peternakan ayam (Dok.Pixabay)
Radarsuara.com - Para peniliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut peternakan ayam petelur memiliki peran penting terhadap upaya Indonesia mengatasi ancaman stunting.
Berdasarkan hasil riset dari Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, menunjukan bahwa bidang peternakan ayam petelur sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan.
Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari mengatakan, daging ayam dan telur menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang sangat penting dalam mengatasi masalah stunting di Indonesia.
Namun pada kenyataannya, Puji menyebut kondisi peternakan pada sektor tersebut tidak selalu mulus. Mengingat produksi daging dan telur ayam nasional berjalan fluktuatif.
Sehingga, kondisi tersebut bisa menjadi warning bagi pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam upaya mencegah stunting.
"Jika industri ayam petelur mengalami kegagalan maka target Indonesia untuk menurunkan prevalensi stunting di bawah 20 persen akan sulit tercapai," ungkap Puji, Rabu 27 Maret 2024.
Selain itu, lanjut Puji, permasalahan mendasar industri peternakan ayam tidak terlepas dari komponen utama pakan ayam yang sangat tergantung impor. Jadi ketika ada fluktuasi harga bahan pakan impor maka berdampak signifikan terhadap industri peternakan dalam negeri.
"Kita merupakan negara megabiodiversitas, mestinya mampu mendapatkan sumber pakan alternatif untuk ternak dari sumber daya lokal,” ungkap Puji.
Menurutnya, pakan ternak menjadi komponen produksi yang sangat memberatkan peternak, karena sumber protein utama dalam pakan ternak masih sangat tergantung impor.
"Kandungan sumber pakan import dalam pakan ternak memang hanya sekitar 35 persen, tapi nilai biayanya mencapai 60-70 persen, kalau kita bisa menekan hingga 40-50 persen biaya pakan impor dalam pakan ternak mungkin dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi dalam industri peternakan,” jelasnya.
Untuk memecahkan masalah tersebut, Puji menilai harus ada upaya untuk menekan biaya pakan impor agar para peternak tidak lagi merasa terbebani.
"Sebenarnya potensi untuk menekan biaya pakan impor dalam industri peternakan kita sangat memungkinkan, karena 90-95 persen pakan ayam berasal dari bahan nabati dan kita memiliki sumber biomassa yang sangat melimpah untuk menjadi sumber pakan, seperti bungkil inti sawit,” kata Puji.
Penulis : Mahipal
Editor : Khaerul Umam
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023