Pemerintah Optimalkan Serapan Produk Petani Dalam Negeri
Monday, 08 January 2024 14:09 WIB
Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi. (Dok.BadanPangan)
Radarsuara.com - Kepala Badan Pangan Nasional/ National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi menyebutkan bahwa pemerintah mengoptimalkan serapan hasil produk petani dala negeri untuk memenuhi stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
"Sebetulnya yang paling penting adalah adanya kepastian offtake hasil produksi petani peternak kita. Sehingga sesuai arahan Bapak Presiden Joko Widodo, silakan berproduksi nanti BUMN pangan ditugaskan untuk menyerap dengan fungsinya sebagai stanby buyer." ujar Arief, Senin 8 Januari 2024.
Arief mengaku telah meminta Perum Bulog dan BUMN pangan untuk bersiap menyerap hasil produksi petani dengan harga yang baik.
"Nanti jika sudah waktunya Perum Bulog bersinergi dengan gapoktan dan koperasi untuk menyerap hasil produksi petani," tegas Arief.
Untuk penyerapan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) diketahui telah menetapkan plafon pinjaman yang dapat diberikan subsidi bunga berupa pinjaman mencapai Rp 28,7 triliun kepada BUMN Pangan, yaitu Perum Bulog dan ID FOOD.
Selaras dengan dorongan penyerapan produksi dalam negeri tersebut, Arief juga menekankan bahwa tugas dan fungsi NFA sebagai institusi pemerintah di sektor pangan harus memastikan stabilitas pangan tetap terjaga dengan adanya stok yang memadai.
"Tentunya Badan Pangan Nasional ditugaskan oleh Bapak Presiden, bahwa apapun kondisinya kita semua harus punya stok pangan strategis yang kuat, khususnya yang diamanatkan dalam Perpres 125 tahun 2022 tentang Pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah yaitu beras jagung kedelai daging ruminansia ayam telur gula konsumsi, sehingga perumusan kalkulasi berapa produksi akhir tahun kemudian proyeksi produksi dan konsumsi itu benar-benar dihitung bersama KL terkait." bebernya.
Untuk komoditas beras, selain berharap pada optimalisasi penyerapan beras di semester 1 tahun 2024, pemerintah juga masih akan melanjutkan kebijakan importasi untuk menjaga keseimbangan stok CBP.
Arief menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan keputusan pemerintah mengantisipasi defisit neraca bulanan. Pada saat yang sama, bantuan pangan beras terus digulirkan untuk masyarakat berpendapatan rendah untuk menjaga daya beli dan menekan inflasi.
Berdasarkan KSA BPS, produksi beras bulanan pada Januari 2024 sebesar 0.9 juta ton dan Februari 2024 sebesar 1.3 juta ton berada di bawah rata-rata konsumsi beras bulanan sebesar 2.5 juta ton.
"Kita tidak bisa menunggu stok habis sehingga perlu antisipasi agar stabilitas tetap terjaga. Jadi kita perlu siapkan beberapa bulan ke depan. Apalagi dampak El Nino terhadap penurunan produksi itu baru terasa dua tiga bulan berikutnya. Nah, pada saat yang sama kita juga terus menggulirkan bantuan pangan beras sebagai bantalan sosial bagi masyarakat berpendapatan rendah untuk mengendalikan inflasi," pungkasnya.
Penulis : Dony PH
Editor : Khaerul Umam
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023