Pertanian dan Peternakan

Hasil Analisis FAO, Selama Pandemi Covid 19 Ketahanan Pangan Indonesia Stabil 

Tuesday, 28 November 2023 18:11 WIB
FAO Lakukan Penelitian Ketahanan Pangan Indonesia Selama Covid 19. (Dok.FAO)

Radarsuara.com - Berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan IPB University, Food and Agriculture Organization (FAO) melakukan penelitian soal kekuatan sektor pertanian dan ketahanan pangan Indonesia selama Pandemi COVID-19. 

Kajian itu dilakukan pada enam komoditas pertanian yakni beras, jagung, daging ayam, telur, pisang, dan bawang merah. 

Peneliti FAO yang juga guru besar IPB University, Prof Muhammad Firdaus menyebut, penelitian keenam komoditas itu mengacu pada produksi, daya produksi, produktivitas, harga produsen, harga konsumen, ekspor, hingga impor. 

"Dari hasil kajian kami, terbukti bahwa sektor pertanian di Indonesia belum mengalami guncangan besar akibat pandemi Covid-19," kata Prof Muhammad Firdaus, Selasa 28 November 2023. 

Menurut dia, hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi (year-on-year) sektor pertanian Indonesia yang selalu positif selama 8 triwulan dari triwulan I tahun 2020 hingga triwulan IV tahun 2021. 

Dijelakannya, bahwa secara spesifik,  kekuatan sektor pertanian Indonesia pada masa pandemi Covid-19 dapat dilihat dari beberapa indikator seperti produksi, produktivitas, harga, dan perdagangan sejumlah komoditas utama yaitu beras, jagung, daging ayam, telur ayam, bawang merah dan pisang. 

"Produksi, produktivitas, dan ekspor beras tidak mengalami perubahan yang signifikan antara periode sebelum dan pada masa pandemi COVID-19. Harga beras di tingkat produsen cenderung lebih rendah selama pandemi dibandingkan sebelumnya. Harga konsumen tidak mengalami perubahan signifikan," ungkapnya.

Sementara, produksi jagung meningkat selama pandemi dan produktivitasnya relatif konstan. Harga jagung di tingkat produsen dan konsumen meningkat, dan tidak ada perubahan signifikan dalam ekspor dan impor jagung.

Namun kata dia, produksi daging ayam mengalami penurunan selama pandemi. Kenaikan harga di tingkat produsen menyebabkan kesenjangan harga antara produsen dan konsumen semakin mengecil. "Jadi, tidak ada perubahan signifikan pada ekspor dan impor daging ayam," tegasnya.

Begitu juga dengan telur ayam, sebab terbukti produksi telur ayam tetap stabil selama pandemi setelah sebelumnya mengalami peningkatan yang signifikan. 

"Harga telur ayam di tingkat produsen dan konsumen memang meningkat secara signifikan. Tetapi, tidak ada perubahan signifikan pada ekspor dan impor telur ayam," tuturnya.

Lalu, untuk produksi bawang merah mengalami peningkatan selama pandemi, namun tidak ada perubahan produktivitas yang signifikan. Harga bawang merah di tingkat produsen dan konsumen meningkat secara signifikan. 

"Jadi, ekspor bawang merah tetap stabil, namun terjadi peningkatan impor yang signifikan, terutama pada bulan-bulan awal pandemi," tambahnya.

Terakhir, produksi dan produktivitas pisang meningkat selama pandemi. Harga pisang di tingkat produsen dan konsumen juga meningkat. Neraca perdagangan membaik, dengan peningkatan ekspor pisang dan penurunan impor, mendekati nol sejak awal pandemi.

Prof Muhammad mengaku, FAO memberikan tiga rekomendasi agar pertanian Indonesia tetap stabil, berkesinambungan dan terus bertahan dalam menjaga kebutuhan pangan. 

Rekomendasi pertama yakni pemerintah harus memperkuat hulu sektor pertanian dengan memberikan dukungan pada kegiatan produksi, seperti fasilitasi pembiayaan dan penyediaan input (pupuk dan benih)  dengan skema subsidi. 

"Kedua, memastikan akses pasar, terutama dengan memfasilitasi dan meningkatkan rantai nilai kinerja dari daerah pusat ke pasar lokal dan ekspor. Ini harus mencakup perbaikan sistem dan teknologi transportasi untuk menjaga kualitas produk pertanian yang dihasilkan," papar dia. 

Terkahir, pemerintah diminta untuk memperkuat sistem cadangan pangan nasional untuk bahan pangan utama khususnya bahan pokok penyumbang inflasi.

Penulis : Asep Supriyanto
Editor.   : Khaerul Umam

Komentar

You must login to comment...