Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Petani Rahayu Bersatu Kreatif Sehat dan Sejahtera (Prabu Kresna). Sejauh ini diketahui 980 keluarga di Desa Rahayu, Kecamatan Soko yang kesulitan air bersih.
Officer Comm Relations & CID Zona 11 Amarullah mengatakan, tak hanya mengalami kekeringan, petani Rahayu kesulitan mendapatkan pupuk setelah pupuk subsidi dikurangi pemerintah.
Dan menurut dia, ketergantungan terhadap pupuk kimia membuat ongkos operasional meningkat, karena petani harus menebusnya dengan harga mahal di pasaran.
Untuk mengatasi persoalan tersebut PEP Sukowati membangun tiga sumur bor dan berhasil menjadi solusi bagi akses air bersih, dan pertanian organik menjadi solusi yang bisa diintegrasikan dengan program air bersih.
"Pertanian organik ini menjadi solusi, sebab Desa Rahayu memiliki memiliki lahan pertanian seluas 102 hektare, ada 50 ton limbah kotoran ternak yang tak termanfaatkan setiap bulan," jelasnya.
Namun kata dia, bahwa mengubah mindset petani tak gampang. Apalagi petani di Desa Rahayu mayoritas lanjut usia. Sehingga agak sulit memberi pemahaman baru mengenai budaya pertanian.
"Untuk itu, kami dari perusahaan menempatkan sejumlah pendamping pertanian di tengah-tengah warga. Mereka tinggal di Desa Rahayu selama satu tahun ini, berbaur dengan warga desa," ungkapnya.
Selain itu, PEP Sukowati juga mendirikan tiga rumah kompos untuk tiga kelompok kerja itu. Rumah Kompos tersebut tidak terbatas untuk produksi dan transaksi tapi juga sebagai wadah belajar bersama, pusat kegiatan kelompok Antasena.
"Tiap Rumah Kompos dikelola bersama oleh anggota kelompok dengan penanggung jawab di tiap kegiatan produksi, transaksi, dan administrasi," jelasnya.
"Jadi, setiap anggota kelompok bisa mendapatkan pupuk organik siap pakai dengan menukarkan limbah organik yang menjadi bahan baku pembuatan kompos," tambahnya
Pihaknya juga membuat demplot dan menerapkan sistem pengendalian hama berbasis metode biologis, memanfaatkan limbah dan mengendalikan hama keong untuk diubah menjadi bahan nutrisi pertanian.
Pada akhirnya, para petani mulai berminat setelah model pertanian organik tersebut menghasilkan padi lebih banyak daripada dengan pola konvensional, yakni 6 - 9 ton per hektare berbanding 3 ton per hektare.
"Biaya produksinya juga lebih murah, yakni Rp 7,5 juta per musim tanam berbanding Rp 8,5 juta per musim tanam, sehingga pertanian organik ini terbukti lebih menguntungkan," tandasnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam