"Akibat musim kemarau ini tahun ini, sebagian wilayah ada yang gagal panen , tapi sejauh ini untuk bahan makanan terutama beras masih tersedia cukup. Begitu juga palawija hasilnya bagus," ujarnya.
Persoalan pertanian di daerahnya adalah, juga pada musim hujan pasti terjadi kelebihan air dan saat masuk musim kemarau seperti sekarang ini mengalami kekurangan air.
"Sebab, kemantakan lokasi pertanian disini adalah pertanian tadah hujan dan air tanah," ungkapnya.
Bupati menjelaskan, bahwa daerah
Merauke tidak memiliki sumber air dari gunung karena tidak ada gunung dan air tanah sebagian berasa asin.
"Merauke ini daerahnya berada di permukaan lain sehingga hanya beberapa tempat khususnya yang ada pasirnya air tanahnya tidak asin," tuturnya.
"Tetapi lanjut Bupati, meski Merauke berada di bawah permukaan laut tapi Tuhan tetap menyediakan air untuk segara aktivitas manusia di Papua Selatan Merauke," tambahnya.
Hal itu terbukti, hingga saat ini sektor pertanian tetap eksis meski dimusim kemarau, sebab pihaknya mengelola pertanian dengan water manajemen.
"Sistem yang cukup baik khusus untuk pertanian lewat long stratege, drainase, pintu air. Ini kita lakukan dan cukup bagus,’’ jelasnya
Bupati juga mengingatkan agar hutan di Merauke tetap dijaga agar ketersediaan air kedepan bisa tetap terjaga. Sebab kebutuhan ruang dan air kedepan sudah dipastikan akan meningkat.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam