Kepala Distanpangan Provinsi Bali mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan memberikan ilmu serta wawasan kepada para peternak dalam meningkatkan budidaya sapi.
"Ya, terutama pengetahuan inseminator dalam pelayanan inseminasi buatan, untuk meningkatkan populasi sapi," ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut yang diikuti 50 peserta, diberi materi mengenai, manajemen usaha peternakan Sapi Bali, SNI Sapi Bali, kesehatan dan reproduksi ternak dan kondisi dan pendistrbusian semen.
Dalam kegiatan tersebut, dihadirkan sejumlah narasumber yakni Dr. Ni Luh Gde Sumardani dari Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Ir. I Made Londra dari Badan Penerapan Standar Instrumen Pertanian dan
Dr. Ir. IGNB. Oka Tri Laksana dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.
Ni Luh Gede mengungkapkan, bahwa Inseminasi buatan dilakukan agar sel telur yang diovulasikan sapi betina dapat dibuahi oleh sperma sehingga sapi tersebut menjadi bunting dan melahirkan anak.
"Inseminasi harus dilaksanakan pada waktu yang tepat, yaitu pada saat ternak betina itu sedang dalam puncak berahi," jelasnya.
Menurut dia, metode tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan populasi dengan menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan. Selain itu
juga apat mengatur jarak kelahiran antar ternak dengan baik.
Dirinya juga menjelaskan, tujuan Inseminasi buatan pada hewan salah satunya adalah memperbaiki mutu genetika pada hewan ternak.
Sebab, tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya serta mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Jadi, bisa meningkatkan populasi angka kelahiran ternak secara cepat dan teratur Mencegah penyebaran / penularan penyakit kelamin akibat penyakit alami," ungkapnya.
Untuk tingkat keberhasilan inseminasi buatan lanjut dia, di tentukan oleh beberapa faktor seperti kualitas semen, ketepatan waktu IB, Inseminator dan lingkungan betina.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam