Sekretaris Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon, Nanang Ruhyana mengatakan, pada awal memasuki musim kemarau hanya 545 hektar lahan pertanian yang mengalami kekeringan.
Namun, musim kemarau yang belum berakhir membuat luas lahan yang kekeringan itu terus bertambah, sampai awal Oktober tercatat mencapai 878,5 hektar.
Nanang mengungkapkan, jumlah lahan pertanian yang dilanda kekeringan itu tersebar di 29 Kecamatan yang ada di daerah Kabupaten Cirebon.
Dijelaskannya, wilayah terparah dampak fenomena El Nino itu terjadi di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sehingga kondisi itu membuat produktivitas padi terhambat.
"Luas keseluruhan lahan sawah yang saat ini ditanam itu 22.137 hektar, dan saat ini 878,5 hektar mengalami kekeringan dan ini meluas dari bulan lalu," terangnya.
Nanang mengaku, menyikapi persoalan tersebut pihaknya sudah melakukan sejumlah langkah strategis di antaranya, tata kelola air dan menyediakan alat penunjang air.
“Saat ini kami mencari sumber-sumber air yang bisa digunakan, nanti kalau sudah ada akan ditingkatkan kapasitasnya, supaya bisa menyelamatkan tanaman sehingga terhindar dari gagal panen," ungkapnya.
Sejauh ini lanjut dia, Distan Kabupaten Cirebon sudah mengusulkan kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menyiapkan skenario modifikasi cuaca atau hujan.
"Surat usulan itu, sudah dikirim beberapa bulan lalu, dan kami masih menunggu keputusannya seperti apa, semoga bisa terealisasi," harapnya.
Selain itu kata Nanang, untuk lahan yang mengalami kerusakan dan ikut Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), sudah ada yang mengajukan ke Asuransi pada tahap I.
"Sekitar 155.21 hektar sudah disetujui dan sudah disurvei oleh PT Jasindo sehingga bisa di klaim dan yang baru mengajukan ada 18 hektar," tandasnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam