Salah satu perwujudan kerja sama ini di antaranya dengan kegiatan demonstration plot (demplot) lahan seluas 0,5 hektare yang ditanami benih jagung NK 212 S produk bioteknologi terbaru dari PT. Syngenta Seed Indonesia di Agrotechnopark Universitas Jember di daerah Jubung.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember, Tri Handoyo mengatakan,
dengan kerja sama kali ini para peneliti dan mahasiswa bisa mengamati dari dekat bagaimana pertumbuhan tanaman hasil bioteknologi.
“Dengan adanya demplot tanaman bioteknologi di Agrotechnopark Jubung maka peneliti Universitas Jember melakukan berbagai penelitian terkait bioteknologi,” ujarnya, Jumat 15 September 2023.
Sementara itu menurut Marketing Head PT. Syngenta Seed Indonesia, Imam Sujono, produk benih jagung NK 212 S adalah benih jagung yang tahan terhadap hama ulat penggerek batang, toleran terhadap glisofat dan produktivitasnya lebih tinggi 10 persen daripada benih jagung biasa.
Benih ini, kata dia, sudah mendapatkan ijin untuk diedarkan ke pasaran semenjak 6 Maret 2023. Rencananya benih jagung NK 212 S mulai dipasarkan tahun depan.
“Agrotechnopark Universitas Jember menjadi lokasi pertama di Indonesia yang menjadi lokasi penanaman benih jagung bioteknologi terbaru kami. Kami memilih bekerja sama dengan Universitas Jember karena sudah memiliki rekam jejak penelitian bioteknologi di Indonesia. Harapannya ada masukan dari para akademisi terhadap produk kami, selain tentunya bentuk kerja sama lainnya,” kata Imam.
Kerja sama ini pun disambut gembira Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna.
Sebab menurutnya, hasil penelitian yang baik adalah hasil penelitian yang bisa dihilirkan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri.
Dia berharap adanya demplot benih jagung NK 212 S di Agrotechnopark Jubung juga bisa dimanfaatkan sebagai wahana belajar dan konsultasi oleh petani Jember agar tidak ketinggalan informasi dan teknologi terkini. Selain playing ground bagi dosen dan mahasiswa.
“Proses untuk melahirkan sebuah inovasi seperti di bidang bioteknologi itu prosesnya panjang dan memerlukan biaya yang besar. Maka kata kuncinya adalah kolaborasi antara semua pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, swasta dan masyarakat,” ungkap Iwan Taruna.
Penulis : Dony PH
Editor : Khaerul Umam