Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur, Sumrambah sebagai narasumber dalam acara tersebut mengatakan, Bioteknologi berpotensi besar menjadi salah satu solusi atas permasalahan dunia pertanian di Indonesia.
"Kesimpulan ini berangkat dari data dan fakta, serta berbagai hasil bioteknologi yang sudah terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian, bahkan penerapannya sudah menyebar ke bidang lain seperti kesehatan," katanya.
Namun, di tengah tantangan pertanian kita, Bioteknologi bisa menjadi inovasi baru yang seperti benih tanaman yang produktivitasnya tinggi, tahan penyakit atau bahkan meminimalkan penggunaan pupuk kimia.
Menurut dia, dunia pertanian Indonesia kini mengalami banyak permasalahan, diantaranya modal sosial petani yang makin tergerus, nilai gotong royong yang hilang dan beralih menjadi sifat individualistis.
"Banyak faktor yang jadi penyebabnya, seperti petani jauh dari akses informasi dan pembiayaan. Sementara perhatian dari pemerintah dirasa belum maksimal," ungkapnya.
Faktor lainnya kata dia, perubahan iklim, menyusutnya lahan pertanian, serangan penyakit hingga hama mengancam produktivitas pertanian. Padahal jumlah penduduk Indonesia makin meningkat dan secara otomatis kebutuhan pangan juga terus naik.
Ditambah lagi regenerasi petani berjalan lambat. Dari data KTNA, mayoritas petani Indonesia berusia 50 tahun ke atas yang artinya kemampuan menerima, mengadopsi dan mengaplikasikan teknologi baru termasuk bioteknologi jauh berkurang.
“Untuk itu saya harap mahasiswa pertanian kita mau menjadi petani. Anak petani tidak malu meneruskan profesi orang tuanya. Tentu saja petani modern yang menguasai teknologi termasuk bioteknologi," tandas dia.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor : Khaerul Umam