Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Dwinita Wikan Utami mengatakan, Smart Farming menjadi pendukung teknologi yang penting dalam meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, seperti air dan pupuk dengan memanfaatkan teknologi sensor dan pemantauan secara real-time yang dapat meminimalisir limbah, menghemat biaya produksi dan berkontribusi nyata pada pertanian berkelanjutan.
"Salah satu potensi terbesar dalam aplikasi SF (Smart Farming) adalah efisiensi dalam penggunaan sumber daya melalui pemanfaatan teknologi smart salah satunya sensor dalam pemantauan secara real time," kata Dwinita, Sabtu 9 September 2023.
Hal yang sama juga dikatakan Peneliti Ahli Madya PRHP BRIN Joko Pitono. Dia memaparkan bahwa Smart Farming merupakan suatu konsep pertanian yang menggunakan teknologi digital dan informasi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan keberlanjutan dalam produksi tanaman dan peternakan.
"Kita membutuhkan aplikasi SF (Smart Farming) karena adanya trend semakin menyusutnya SDM pertanian di pedesaan yang bermigrasi ke perkotaan," katanya.
Selain itu, lanjutnya, teknologi Smart Farming adalah untuk mengatasi isu ketahanan pangan, dimana indeks ketahanan pangan Indonesia sekitar 59,5 sehingga membutuhkan peningkatan produktivitas pertanian yang signifikan.
"Kemudian adanya isu DPI (dampak perubahan iklim) yang menstimulir peningkatan intensitas cekaman biotik/abiotik. Dan adanya isu pengurangan lahan pertanian akibat konversi ke fungsi di luar pertanian yang mencapai kisaran 132 ribu hektare per tahun," jelas Joko.
Joko mengatakan, desain aplikasi SF harus kompleks sehingga memerlukan keterlibatan dan sinergi dari berbagai bidang kepakaran seperti elektro, fotonik, agronomi fisiologi, hama penyakit, agroklimat, tanah, dan mekatronika.
"Smart farming yang berbasis Internet of Thing (IoT) memerlukan dukungan cloud server yang ditunjang oleh beberapa unit untuk proses monitoring parameter penting," ungkapnya.
Penulis : Dony PH
Editor. : Khaerul Umam