Samin, salah satu petani di Blok Kanaga Kecamatan Warunggunung Kabupaten Lebak menyebutkan, ketimun jauh lebih sedikit menyerap air ketimbang tanaman lainnya.
"Kami mengembangkan tanaman ketimun, karena tidak membutuhkan persediaan air banyak," ucap Samin, Rabu, 30 Agustus 2023.
"Kami hanya membasahi tanaman pagi dan sore, sehingga tanaman tumbuh subur hingga panen," imbuhnya.
Pria berusia 55 tahun tersebut menjelaskan, pengembangan pertanian sayuran ketimun itu menguntungkan, karena waktu awal panen hanya 40 hari setelah tanam.
Selanjutnya, panen ketimun itu bisa berlangsung selama dua pekan ke depan.
Samin mengatakan, penanaman sayuran ketimun tidak terdampak kemarau namun permintaan pasarnya cenderung meningkat. Selain itu juga harga di pasaran relatif baik, bahkan di tingkat petani menembus Rp6.000 per kilogram.
"Kami menanam ketimun itu jika musim kemarau, karena sawah di sini masuk kategori tadah hujan," kata Samin.
Samin menerangkan, menanam sayuran ketimun itu dilakukan berdasarkan pengalaman tahun lalu. Dimana pihaknya bisa meraih panen cukup besar.
Dari luas lahan dua petak sawah atau 1.000 meter persegi, dia mengaku, mampu memproduksi dua ton.
Dari produksi sebanyak dua ton itu dijual Rp 6.000 per kilogram, sehingga diakumulasikan dapat menghasilkan uang Rp 12 juta.
"Kita bisa meraup keuntungan sekitar Rp7 juta bersih setelah dipotong biaya produksi," kata Samin.
Penulis : Dony PH
Editor : Khaerul Umam