Pertanian dan Peternakan

Buruan Sae Jadi Andalan Kota Bandung Menjaga Ketahanan Pangan

Thursday, 24 August 2023 16:12 WIB
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat, membentengi ketahanan pangan di wilayahnya melalui program Buruan Sae. (Dok.JabarProv)

Radarsuara.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat, membentengi ketahanan pangan di wilayahnya melalui program Buruan Sae.

Bandung yang selama ini lebih dari 90 persennya mengandalkan kebutuhan pangan dari daerah lain, terus berupaya untuk bisa secara mandiri menjaga ketahanan pangannya.

Buruan Sae yang merupakan sebuah program urban farming terintegrasi yang digalakkan oleh dinas pangan dan pertanian (DISPANGTAN) Kota Bandungsampai.
 
Sampai saat ini sudah ada 375 titik kelompok. Salah satunya di RW 02 Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik dimulai sejak Juni 2020 bersamaan dengan diterapkannya program Kang Pisman. 
 
Ketua RW 02 Sukamiskin, Deny Sukirman menjelaskan, lahan seluas 300 meter persegi yang ada di lingkungannya digunakan sebagai lahan terintegrasi.
 
"Lahan ini tidak hanya digunakan untuk Buruan Sae, tapi juga berbarengan dengan Kang Pisman dan pengolahan sampah. Lahan yang digunakan untuk Buruan Sae itu sekitar lebih dari 30 persennya atau 100 meter persegi," kata Deny, Kamis 24 Agustus 2023.
 
Di Buruan Sae RW 02 Sukamiskin bisa ditemui beragam jenis sayuran yang didominasi kangkung dan pakcoy. Selain itu, ada pula tanaman obat keluarga (toga) dan bawang-bawangan.
 
"Selain tanaman, Buruan Sae kami juga ada budikdamber dan ayam petelur. Prinsipnya memanfaatkan lahan. Ada yang ditanam langsung di tanah, polibag, dan organic tower garden (OTG). Memanfaatkan lahan yang sempit supaya tepat guna," ungkapnya.
 
Bibit tanamannya, lanjut Deny, kebanyakan diperoleh dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, selebihnya membeli sendiri dari hasil penjualan.
 
Hasil Buruan Sae biasanya mereka jual ke warga sekitar. Sebab menurut Deny, peminatnya memang banyak dari kelompok berkebun sendiri atau warga sekitar. 
 
"Itu pun sudah langsung habis sama warga di sini. Biasanya panen dua bulan sekali, seperti kangkung dan pakcoy. Itu kalau kita jual semua hasil sayurannya bisa dapat sekitar Rp100.000-Rp200.000," terangnya.
 
Denny menjelaskan, manfaat Buruan Sae sangat dirasakan warga sekitar, pihak RW bisa membantu PKK untuk penuntasan stunting. 
 
"Meski memang di wilayah kami tidak ada yang stunting, tapi ini sebagai bentuk pencegahan. Minimal memberi bantuan pangan hasil sayuran dan lele. Kadang kita bagikan juga telur," ucapnya.
 
Selain kepada yang membutuhkan, pihaknya juga memberikan hasil Buruan Sae kepada warga yang aktif dalam pemilahan sampah sebagai penghargaan untuk mereka.
 
Merespon program tersebut, Lurah Sukamiskin, Farida Agustin mengatakan, Buruan Sae menjadi salah satu program andalan di wilayahnya. 
 
Bahkan, melalui program tersebut, kata dia,  Kelurahan Sukamiskin bisa menyabet Juara 1 Kelurahan Terbaik se-Jawa Barat.
 
"Buruan Sae ini juga merupakan upaya kami untuk mencegah stunting. Kita lakukan penanaman sayur mayur pertanian di lahan tidur. Hasil panen digunakan untuk kebutuhan masyarakat sekitar," katanya.
 
Ia menyebut, secara keseluruhan, angka rentan stunting di Sukamiskin pada tahun 2022 tercatat ada 94 anak. Angka ini menurun dari tahun 2021 yakni sebanyak 202 anak. 
 
Penulis : Dony PH
Editor    : Khaerul Umam
 

Komentar

You must login to comment...