Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DPP) Bantul Joko Waluyo. Untuk itu, kata dia, sektor pertanian selalu menjadi skala prioritas dalam kebijakan pemerintah.
Berdasarkan data, saat ini terdapat 860 kelompok tani, 75 gabungan kelompok tani (gapoktan), 503 kelompok wanita tani (KWT), dan 1.030 kelompok peternak.
Menurut Joko, penggerak sektor pertanian di Bantul didominasi oleh petani usia lanjut, sehingga mekanisasi sangat dibutuhkan untuk membantu peningkatan produksi pertanian.
"Ya, mekanisasi sangat dibutuhkan untuk membantu peningkatan produksi pertanian, dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan," ungkap Joko.
Dia menjelaskan, saat ini pihaknya berupaya meningkatkan produktivitas pertanian tanaman pangan dengan mekanisasi atau pemanfaatan alat mesin pertanian oleh petani.
"Jadi, kami berikan bantuan sejumlah alat mesin pertanian, seperti mesin pemanen, pompa air, serta sejumlah alat dan mesin pertanian lainnya," tuturnya.
Masih kata Joko, bantuan yang diperuntukan kepada Kelompok Tani (Poktan) itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Memang, alat mesin pertanian ini sangat dibutuhkan untuk menunjang kinerja petani, karena potensi sektor pertanian masih dapat dikembangkan," ucapnya.
Dia mengakui, pihaknya terus mengembangkan komoditas pertanian. Setelah Bantul surplus beras pada tahun lalu, dan budidaya bawang merah di lahan pasir. "Sekarang komoditas yang akan dikembangkan adalah kopi dan kelapa," urainya.
Menyikapi persoalan tersebut, dia mengajak petani terbuka dengan kemajuan teknologi dan penemuan terbaru dalam bidang pertanian, sehingga berkurangnya luas lahan pertanian akibat alih fungsi tetap bisa meningkatkan produktivitas pertanian.
Dia menyebutkan, dulu lahan pertanian di Bantul mencapai 40 ribu hektare dengan produktivitas padi rata-rata tiga ton per hektare.
"Alih fungsi cukup tinggi, sehingga sekarang tinggal tersisa 14 ribu hektare, dan produksinya bisa mencapai 10 ton per hektare karena bantuan teknologi," tandasnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam