Dalam kesempatan itu, Nadzir ingin melihat dengan baik kualitas tembakau yang dihasilkan petani hingga menjadi terkenal seperti saat ini. Khususnya pada produksi rokok.
Menurutnya, tembakau menjadi salah satu komoditas yang memiliki potensi besar dalam menghasilkan nilai ekonomi petani. Namun pada perjalanannya tak jarang menemui kendala.
Nadzir menyebutkan, bahwa cukup banyak permasalahan di dalam budi daya tanaman tembakau, salah satu yang utama adalah adanya kutu kebul Bemisia tabaci (Hemiptera: Aleyrodidae) yang dapat menjadi vektor virus tobacco mosaic virus (TMV) atau penyakit bercak belang pada daun tembakau.
“Penyakit yang disebarkan oleh serangga berukuran kecil dan berwarna putih ini menyebabkan kualitas daun tembakau menjadi turun. Bahkan menyebabkan cita rasa dari tembakau berkualitas rendah,” terang Nadzir dalam keterangan tertulisnya, Rabu 9 Agustus 2023.
Lebih jauh dia menjelaskan, serangan dari penyakit ini tidak secara langsung menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh daun, tetapi kerusakan yang ditimbulkan yaitu menurunnya kualitas. Konsumen hanya akan memberikan harga murah dan nantinya akan dijual di pasar-pasar tradisional saja.
Sementara tanaman tembakau yang dijaga dari serangan kutu kebul, akan terhindar dari virus tanaman dan memiliki cita rasa yang baik sehingga dapat menembus ke pasar internasional.
“Selain kutu kebul, serangga pengganggu yang dapat menurunkan produksi tanaman tembakau seperti ulat grayak Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae),” tutur Nadzir.
Dia menerangkan, ulat grayak akan memakan sebagian atau seluruh daun, sehingga kerusakan yang ditimbulkan akan langsung mudah terlihat.
“Ulat ini akan menyerang mulai dari fase tanaman masih muda hingga tanaman sudah tua,” jelasnya.
Nadzir berharap penerapan pengelolaan hama terpadu (PHT) menjadi dasar yang terus dipegang. Pengelolaan yang dilakukan seperti budi daya tanaman sehat, berarti tanaman tersebut tidak terserang oleh hama dan penyakit tanaman.
Selain itu, lanjutnya, juga dilakukan pemanfaatan musuh alami atau agens hayati untuk menurunkan penggunaan pestisida di lapangan.
“Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana akan menimbulkan banyak permasalahan seperti adanya resistensi (kebal) pada serangga hama, munculnya hama baru,” tandasnya.
Penulis : Dony PH
Editor : Khaerul Umam