Kepala UPTD Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kaltim Rahmat Sutarto mengatakan, biasanya tidak turun hujan selama hampir tiga bulan masih masuk kategori wajar.
Namun kata dia, berbeda dengan saat ini karena dibayang-bayangi fenomena el nino yang cenderung membuat musim kemarau menjadi lebih parah.
"Saat ini lebih kering dan lebih panas dan dampaknya pertama kali yang merasakan adalah dunia pertanian," ungkapnya.
Menurutnya, lebih dari 90 persen lahan pertanian di Kaltim adalah tadah hujan. Sebab irigasi teknik masih sangat sedikit. Sehingga kondisi perubahan iklim dan adanya fenomena alam membuat lahan lebih rawan mengalami krisis air.
"Tapi sampai sementara ini, kami belum menerima laporan dari lapangan yang melaporkan terjadinya kekeringan. Walaupun hujan beberapa hari ini sudah mulai sangat berkurang," urainya.
Dan menyikapi fenomena tersebut, pihaknya tetap waspada, karena secara teori memang betul-betul memasuki musim kemarau dan secara nasional akan ekstrem dengan fenomena el nino.
Dirinya menuturkan bahwa rata-rata pesawahan di Kaltim adalah sawah tadah hujan. Dan saat masih ada hujan petani sudah menanam, kemungkinan usia tanam saat ini sudah umur sekitar sebulan.
"Risikonya bila iklim terjadi sesuai ramalan, maka kemungkinan akan terjadi banyak kegagalan panen," paparnya.
Untuk itu, pihaknya terus melakukan berbagai upaya, seperti sosialisasi kepada masyarakat jika terjadi kekeringan agar segera laporan, supaya bisa jadi atensi.
"Kami ada namanya sosialisasi DPI (dampak perubahan iklim). Itu sebagai upaya menyadarkan masyarakat petani tentang kerusakan iklim. Sudah diberi pemahaman dan harus apa kalau itu terjadi," sambungnya.
Selain itu lanjut dia, ada juga kegiatan gerda atau gerakan pengendalian. Ketika ada laporan daerah terjadi banjir, maka mereka datang untuk membantu meringankan dampaknya.
"Nah, nanti ketika kekeringan, juga ada kegiatan seperti itu. Misalnya kalau lokasinya memang dekat dengan sumber air, bisa jadi akan dilakukan pompanisasi," ucapnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam