Varietas arob ini dikembangkan salah seorang petani milenial, I Wayan Slamet dan potensinya baru diketahui sejak awal 2014.
Menurut Wayan kopi Arob memang melahirkan karakter lain hasil kawin silang secara alami. Sehingga menjadi perhatian peneliti dan Dinas Pertanian yang datang ke kebunnya pada Juni 2023.
"Iya, mereka datang ke kebun untuk mengecek dan mengamati seperti apa kopi jenis Arob ini. Ada rencana ditetapkan sebagai varietas lokal Badung dinamai Arab di Bon," jelasnya.
Wayan menerangkan, saat ini belum banyak yang mengembangkan varietas kopi Arob, sehingga bisa disebut langka alias minim jumlah tanamannya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Badung, luas perkebunan kopi di Gumi Keris tercatat mencapai 1.797,82 hektare dengan sebagian besar jenis arabika dan robusta dan diakui sebagai specialty grade yang mampu tembus pasar internasional.
Masih kata dia, jenis kopi Arob memiliki banyak keunggulan, misalnya dari sisi batang dan perakaran lebih kuat, tahan hama, dan rasa kopi menjadi lebih enak dari arabika.
"Kami sudah uji coba rasa dan kualitas secara umum. Ternyata rasa asam lebih muncul, dan aroma buah lebih tinggi. Menurut kami rasanya kompleks akibat dari proses olah, paduan dua varietas dan kondisi lahan," paparnya.
Dijelaskan Wayan Kopi Arob ini sudah mendapat tempat di pasar luar negeri, seperti Jepang, China, hingga Arab. Bahkan pasar Eropa.
"Pesanan kopi Arob di luar negeri luar biasa. Baik itu dari Eropa maupun China, Jepang, bahkan Dubai bahkan kami kewalahan menerima pesanan," tandasnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam