Penyelesaian masalah lahan eks tambang itu dinilai masih kurang maksimal sebab perkebunan nanas yang dikelola oleh kelompok tersebut belum memberikan dampak dominan bagi kesejahteraan petani.
Ketua Kelompok Tani Air Jelutung Suhari mengatakan, bahwa lahan eks tambang itu masih kurang subur untuk perkebunan, akibat unsur hara tanah.
"Jadi, kesuburan di lahan itu belum begitu baik atau kurang maksimal dalam pertanian. Untuk itu kita diberikan pelatihan dan alat untuk pembuatan organik untuk mengembalikan kesuburan tanah," ungkapnya.
Dirinya mengaku optimis, dengan pelatihan dari PT Timah Tbk bisa membantu dalam mengatasi permasalahan kesuburan tanah. Dan menurutnya bahwa pembuatan kompos sangat mudah dan bisa dikerjakan oleh anggota kelompok tani.
"Bahan pupuk kompos itu berasal dari kotoran hewan ayam, limbah nanas, bekas serabut kelapa, semoga ke depan bisa meningkatkan produktivitas," paparnya.
Dijelaskannya, dalam pelatihan mereka digembleng ilmu cara membuat kompos dari serabut kelapa dan limbah nanas dengan cara fermentasi.
"Jadi prosesnya, bahan baku kita fermentasi dulu selama 1 bulan. Setelah itu baru kita aplikasikan ke tanaman baru akan terlihat," jelasnya.
Dia juga menjelaskan, bahwa belum maksimalnya hasil panen di kebun eks tambang karena unsur hara masih rendah, karena menunjang terhadap kesuburan tanaman.
"Semoga setelah disuport dengan pupuk kompos unsur harganya naik, dan berdampak terhadap kesuburan tanam hingga hasil panennya jadi maksimal," tandasnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam