Pada 2022, pihaknya mencatat populasi kerbau mencapai 1,17 juta ekor. Provinsi dengan populasi kerbau terbanyak adalah Nusa Tenggara Timur, diikuti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Aceh, dan Sumatera Utara.
Jumlah tersebut kata dia, diperkirakan naik di tahun ini, mengingat pengembangan kerbau tak memerlukan pakan dengan kualitas tinggi.
"Kerbau lokal sebenarnya memiliki keunggulan untuk dikembangkan karena dapat bertahan hidup dengan pakan kualitas rendah, toleran terhadap parasit, serta keberadaannya telah menyatu dengan kehidupan petani di pedesaan," ungkap Puji, Sabtu 15 Juli 2023.
Puji sendiri telah membeberkan hal tersebut pada kegiatan Webinar Risnov Ternak#4 "Genetika Molekuler Rumpun Kerbau Indonesia dan Sapi Belgian Blue Hasil Persilangan", kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, Puji mengaku membeberkan beberapa rumpun kerbau yang memiliki karakteristik spesifik dan adaptif di agroekosistem tertentu juga sudah ditetapkan sebagai rumpun kerbau lokal. Yaitu sembilan rumpun kerbau rawa dan satu rumpun kerbau sungai.
Dengan sebaran populasi kerbau yang merata di semua wilayah Indonesia yang memiliki beragam agroekosistem, kata dia, tentu juga ada rumpun-rumpun kerbau lainnya yang unik dan perlu ditetapkan sebagai rumpun yang baru untuk mendapatkan perhatian pemangku kepentingan dalam upaya konservasinya.
"Analisis molekuler diharapkan dapat membantu percepatan identifikasi rumpun-rumpun kerbau di Indonesia," kata Puji.
Terkait genetika molekuler sapi Belgian Blue, Kepala OR Pertanian dan Pangan tersebut mengatakan, bahwa perbaikan genetik sapi-sapi lokal Indonesia melalui persilangan dengan sapi Belgian Blue double muscling (DS) adalah salah satu upaya pemerintah dalam peningkatkan produksi daging nasional.
"Sapi Belgian Blue double muscling adalah sapi yang mengalami mutasi alami pada gen Myostatin yang menyebabkan gen tersebut tidak berfungsi dalam mengontrol perkembangan otot," ujarnya.
Akibatnya, ungkap Puji, pertumbuhan otot sapi Belgian Blue menjadi tidak terkontrol dan menghasilkan double muscle atau perototan ganda. Bahkan sapi Belgian Blue memiliki kemampuan menghasilkan karkas memang luar biasa (70-80%) atau sekitar dua kali lipat bobot badan sapi lokal Indonesia.
"Namun yang perlu diperhatikan adalah apakah sapi-sapi hasil persilangan Belgian Blue bisa adaptif di Indonesia sebagai negara tropis, tidak ada permasalahan fisiologis dan reproduktif, dan sapi-sapi tersebut mampu tumbuh baik dengan perkembangan otot yang masimal jika dibudidaya dengan system pakan sapi local? Ini yang perlu dilakukan riset mendalam dan komprehensif agar pengembangan sapi Belgian Blue DS di Indonesia berjalan dengan baik," kata Puji Lestari
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Riset Peternakan, OR Pertanian dan Pangan, BRIN, Tri Puji Priyatno, dalam sambutannya mengatakan kerbau termasuk salah satu komoditas ternak yang sangat penting, baik sebagai sumber protein hewani yang terjangkau oleh masyarakat, maupun dimanfaatkan dalam sosial, budaya, dan keagamaan di Indonesia.
Oleh karena itu, rumpun-rumpun kerbau yang ada saat ini dan sudah adaptif dengan agroekosistem setempat perlu ditingkatkan populasinya dan dilestarikan.
"Riset molekuler yang dilakukan oleh Dr. Peni Wahyu Prihandini, SPt., M.P., bersama dengan timnya diharapkan bisa mempercepat penetapan rumpun-rumpun kerbau yang ada di Indonesia," harap Tri.
Penulis : Dony PH
Editor. : Khaerul Umam