Pertanian dan Peternakan

FAO Prediksi 2050 Dunia Hadapi Bencana Kelaparan

Friday, 14 July 2023 13:05 WIB
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat membeberkan bahaya perubahan iklim terhadap manusia dalam agenda Blended Training of Trainers on Climate Field School for Colombo Plan Member Countries di Cianjur, Jawa Barat. (Dok.BMKG)

Radarsuara.com - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, perubahan iklim yang dipicu pemanasan global menjadi biang keladi berbagai bencana hidrometerologi, cuaca ekstrim, kebakaran hutan, lahan dan juga krisis pangan.

"Perubahan iklim yang terjadi secara global tidak bisa dianggap remeh karena dampaknya bagi kehidupan sangat signifikan dan membahayakan. Kondisi ini mengancam seluruh negara di seluruh belahan dunia tanpa terkecuali," ungkap Dwikorita, Jumat 14 Juli 2023.
 
Dwikorita sendiri telah menegaskan hal itu dalam agenda Blended Training of Trainers on Climate Field School for Colombo Plan Member Countries di Cianjur, Jawa Barat.
 
Pada kesempatan itu, dia juga menyoroti adanya ancaman ketahan pangan di seluruh negara akibat perubahan iklim.
 
Dia membeberkan, organisasi pangan dunia FAO memprediksi tahun 2050 dunia akan menghadapi potensi bencana kelaparan akibat perubahan iklim, sebagai konsekuensi dari menurunnya hasil panen dan gagal panen.
 
Dwikorita menerangkan, berbagai upaya dilakukan negara-negara di dunia sebagai bagian dari mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk Indonesia. 
 
BMKG sendiri, kata dia, secara rutin menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) sejak 2011 dengan menyasar petani dan penyuluh pertanian di seluruh pelosok Indonesia.
 
Keberhasilan kegiatan SLI di Indonesia ini bahkan telah dijadikan sebagai percontohan dan telah dilaksanakan TOT SLI untuk negara - negara Asia Pasifik, Timor Leste dan Pakistan.
 
Sementara itu, Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan Ardhasena Sopaheluwakan menuturkan, petani Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengatasi variabilitas iklim, berjuang untuk mengurangi kondisi gagal panen dan rendahnya produktivitas pertanian.
 
SLI yang rutin diselenggarakan BMKG, kata dia, berfungsi sebagai jembatan untuk meningkatkan pengetahuan praktisi, penyuluh, dan petani mengenai informasi iklim, khususnya di tingkat lokal.
 
"Melalui prakarsa seperti Sekolah Lapang Iklim, kami dapat menjembatani kesenjangan pengetahuan, memberdayakan petani, dan membekali mereka dengan alat dan pemahaman yang diperlukan untuk mengatasi kompleksitas informasi iklim," imbuhnya.
 
Penulis : Dony PH
Editor.   : Khaerul Umam
 

Komentar

You must login to comment...