Ketua Tim peneliti Prof. Dr. Tomy Perdana Unpad mengatakan, pihaknya turut berinovasi dan telah berhasil meningkatkan nilai tambah para petani di Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
"Jadi, produk hortikultura yang dikelola Gapoktan Lembang Agri tersebut berhasil menembus pasar ekspor," ungkap Tomy.
Sementara Ketua Program Studi Sarjana Agribisnis Faperta Unpad Dr. Eddy Renald menjelaskan, ada tiga kriteria utama produk komoditas lokal bisa masuk pasar ekspor.
"Jadi, pertama dari sisi kualitas, kedua kuantitas, dan ketiga kontinuitas. Kriteria terakhir kerap menjadi penyebab produk pertanian lokal sulit menembus pasar ekspor. Misalnya hari ini panen, lalu minggu depan tidak produksi lagi,” ujarnya.
Untuk itu, tim berfokus meningkatkan kontinuitas produk melalui implementasi riset tentang rantai pasok pangan. Lalu dengan 10 petani membangun sistem produksi yang berkelanjutan guna memenuhi pasar ekspor.
"Salah satu yang dilakukan adalah mengatur strategi agar lahan tetap produktif panen secara kontinu," tuturnya.
Dijelaskannya, sebenarnya para petani telah memiliki pengetahuan dan pengalaman mumpuni dalam menanam. Namun kelemahannya adalah ketidaksiapan dalam memenuhi permintaan pasar khusus.
Masih kata Eddy, kalau petani konvensional jika memiliki lahan satu hektar maka seluruhnya ditanam. Sementara kebutuhan ekspor itu harus dilakukan rutin per minggu.
"Untuk itu, kami atur agar bagaimana lahan satu hektar itu bisa memenuhi kebutuhan ekspor mingguan. Dengan demikian, otomatis kualitas dan kuantitas kita jaga juga,” jelasnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor : Khaerul Umam