Ketua Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) Jawa Barat, Suherman mengatakan, hal itu diakibatkan beberapa faktor, salah satunya usia tanaman yang sudah tua sehingga pohon tak lagi produktif menghasilkan buah.
Selain itu, kata Suherman, adanya dampak perubahan iklim. "Jadi, terlalu banyak turun hujan selama beberapa waktu terakhir, ini menjadi salah satu faktor kenapa hasil panen cengkeh minim," kata dia.
Masih kata Suherman, tak hanya kondisi pohon dan perubahan iklim yang menjadi penyebab minimnya panen cengkeh di Jawa Barat. Tetapi kesuburan karena tidak teraturnya pemupukan juga bisa berdampak terhadap maksimalnya buah cengkeh.
"Seharusnya, pemupukan dapat ditingkatkan disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi pada pohon-pohon cengkeh. Sehingga mensuport terhadap pertumbuhan buah yang maksimal," ujarnya.
Dia menuturkan, seharusnya Juni sampai Oktober itu menjelang masa panen raya cengkeh di sejumlah perkebunan rakyat khususnya di Jawa Barat.
"Dari pantauan kami, populasi pohon cengkeh saat ini agak lambat. Sebab sampai sekarang belum terlihat tanda-tanda ada bunga," jelas Suherman.
Masih kata dia, kemunculan bunga itu pun baru terlihat di pohon-pohon yang berumur 7 sampai 26 tahun, dimana produksinya tidak rata. Bahkan, pohon umur di atas 30 tahun tidak muncul bunga.
“kalau tidak merata seperti ini bukan panen raya, tetapi biasanya disebut ‘panen piit’,” paparnya.
Dirinya memprediksi, pertumbuhan buah cengkeh kemungkinan terjadi tahun 2024, hal itu berdasarkan catatan iklim yang menunjang yakni tidak terlalu banyak hujan.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor : Khaerul Umam