Bahkan, kata dia, pengiriman rempah cengkeh secara besar-besaran dari Kesultanan Tidore ke Spanyol pada 1521 menjadi momentum yang menunjukkan kepada dunia bahwa sumber rempah memang ada di Timur, atau Nusantara.
“Dulu, rempah kita menjadi idola. Tidak hanya menjadi bumbu masak tapi juga parfum, kosmetik, dan berbagai manfaat. Menurut saya ini kekayaan kita yang tidak dimiliki orang,” ujarnya dikutip dari
wapresri.go.id.
Lebih lanjut Ma'ruf Amin mengisahkan bahwa Mesir yang bukan merupakan negara penghasil kopi dan rempah, mampu menjual kopi rempah ke negara-negara Amerika dan Eropa dengan jumlah yang banyak.
“Mesir itu menjadi pengekspor kopi yang diolah dengan rempah dan dijual ke Amerika sampai ke Eropa, namun setelah saya tanya ternyata [bahan baku] kopi dan rempahnya berasal dari Indonesia,” terangnya.
Dia pun menekankan, dengan sumber daya lokal yang ada dan pengolahan yang cermat, potensi kopi rempah ini dapat menjadi produk dagang nasional yang menjanjikan.
Wapres berharap, potensi yang ada di Maluku Utara ini dapat membangkitkan kembali jalur rempah nusantara di tanah yang dijuluki Moloku Kie Raha atau Kesultanan Empat Gunung tersebut.
“Kalau ini kita kelola lagi, kita bangun lagi pertama tentu harus ada proses hilirisasi di dalam negeri, sehingga menjadi produk jadi, kemudian ada penanaman kembali yang terpola, ada offtaker menjadi perantara,” kata Ma'ruf Amin.
Apabila upaya ini berhasil, dia meyakini masyarakat lokal akan merasakan manfaatnya dengan pemberdayaan sumber daya alam dan komunitas sekitar.
“Kalau hilirisasi produk-produk pertanian itu (berjalan) yang akan tercerahkan masyarakat kecil, berbeda dengan (sektor) pertambangan yang diuntungkan pengusaha,” ungkapnya. (UM)