Seperti dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, pada triwulan pertama 2023 mampu menghasilkan 629 ribu ton gabah kering giling (GKG).
Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan cukup besar, sekitar 83 ribu ton dibanding triwulan pertama pada tahun 2022 yang hanya menghasilkan produksi sekitar 546 ribu ton GKG.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Fathul Gani mengatakan bahwa tanaman padi mengalami perkembangan cukup bagus, sebab produksi gabah kering mengalami kenaikan 13,19 persen dari 2022.
Dia mengaku bersyukur atas capaian tersebut, karena di tengah kondisi iklim panas di beberapa wilayah di Indonesia, produksi padi di NTB justru mengalami peningkatan.
Fathul Gani mengaku, untuk menjaga sirkularitas dan produktivitas padi, pihaknya mendorong para petani di kabupaten dan kota untuk terus menaman padi terutama di lahan pertanian yang sistem pengairannya sudah bagus.
"Harga gabah saat ini cukup tinggi, tentu kondisi ini memberi keuntungan bagi para petani, maka kami mendorong petani terus memanfaatkan lahan pertanian yang ada," jelasnya.
Melihat perkembangan produktivitas tersebut, dirinya optimistis target NTB menghasilkan 1,35 juta ton GKG pada 2023 akan tercapai.
"Insya Allah target ini bisa dicapai. Sebab kami melihat data triwulan I sudah cukup bagus, apalagi puncak panen yang diperkirakan akan dilaksanakan bulan April 2023," tandasnya.
Dia menyebut bahwa tahun sebelumnya luas lahan tanaman padi NTB sebesar 269,83 ribu hektare dengan produksi sekitar 1,46 juta ton gabah kering.
Dengan capaian tersebut kata dia, NTB telah ditetapkan sebagai salah satu lumbung pangan nasional oleh pemerintah pusat. "NTB memiliki potensi sumber daya pertanian yang cukup luas baik lahan sawah maupun perkebunan," pungkasnya.
Penulis : Asep Supriyanto
Editor. : Khaerul Umam