Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan dan Distribusi DKPP Kota Bogor Soni Gumilar mengatakan, saat ini sawah di Kota Bogor hanya mampu menghasilkan 4.500 ton.
"Jadi, kebutuhan beras Kota Bogor ditambal dengan beras yang berasal dari Cianjur, Indramayu dan daerah lainnya," kata Soni.
Soni menuturkan, area sawah di Kota Bogor yang semakin menipis memang menjadi PR berat ketika bicara ketahanan pangan.
Untuk mengantisipasi hal itu, lanjutnya, pemerintah kota (pemkot) mengeluarkan program Gerakan Tanam Serempak untuk mendorong ketahanan pangan keluarga.
"Di Kota Bogor salah satu krisis yang dihadapi adalah luas lahan persawahan yang berkurang, sehingga diperlukan terobosan atau inovasi untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan itu sendiri," jelas Soni.
Dirinya mengajak masyarakat mempercepat produksi padi di lahan sawah yang tersisa melalui Gerakan Tanam Serempak. Mengingat beras merupakan bahan pangan utama masyarakat Indonesia.
Menurut Soni, luas persawahan di Kota Bogor terus menunjukkan tren menurun, berdasarkan data pada 2009, luas sawah di Kota Bogor 1.100 hektare.
Kemudian pada 2014 menyusut menjadi 787 hektare dan 2017 kembali menyusut dengan hanya tersisa sekitar 300 hektare.
Untuk menjaga itu, Soni menegaskan semua pihak memiliki peran dalam menjaga ketahanan pangan, salah satunya dengan menjaga ketahanan pangan keluarga.
"Jadi, Gerak Tanam Serempak ini sebagai bagian upaya dalam menghadapi dan mengatasi krisis di Kota Bogor," pungkasnya. (AS)