Menurutnya, tingginya permintaan pasar global, secara langsung akan berdampak terhadap keberadaan produk minyak sawit yang berada di Indonesia.
Sebab, keberadaan minyak sawit sebagai minyak nabati terbesar dunia, juga menjadi substitusi bagi minyak nabati lainnya.
"Hampir semua minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku minyak makanan dan non makanan, telah menjadikan minyak sawit sebagai bahan baku substitusi yang digunakan industri minyak makanan dan industri turunannya," kata Khadikin dikutip dari
bpdp.or.id, Sabtu 15 April 2023.
Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi pasar global yang mengalami defisit pasokan akibat terjadinya perang Rusia dan Ukraina, tak dapat dianggap sepele.
Karena perang tersebut, berdasarkan analisa beberapa pakar pasar global, telah berpengaruh secara signifikan terhadap 34 negara di dunia.
Khadikin menyebutkan, dampak berkurangnya pasokan minyak nabati dari minyak biji matahari ini berdampak langsung terhadap minyak sawit yang mengalami lonjakan permintaan pasar.
Di sisi lain, kata dia, kondisi pasar minyak sawit juga sering mengalami kenaikan harga jual, akibat melambatnya produksi akibat iklim dan sebagainya. Keterbatasan produksi ini, secara langsung berdampak terhadap lonjakan kenaikan harga jual produk minyak sawit dan turunannya.
Sementara kondisi aktual pasar minyak nabati dunia menunjukkan kerawanan tinggi dan sensitif terhadap perubahan lingkungan strategis.
Khadikin mencontohkan, pada saat mulai invasi Rusia ke Ukraine, bulan April 2022 lalu harga CPO internasional meningkat RM 1.000/MT dalam kurun waktu 3 (tiga) hari.
“Hal ini disebabkan negara Ukraine merupakan produsen utama minyak biji bunga matahari (sunflower oil), yang menjadi barang kompetitor CPO asal negara tropis, utamanya Indonesia dan Malaysia,” jelasnya. (UM)