Menurut Fakri, buah salak dan alpukat hasil produksi pertanian di daerahnya itu terdapat perbedaan yang signifikan dengan di daerah lain, terutama dari segi cita rasa.
"Salak Sabang rasanya lebih manis dan renyah, sedangkan alpukat, dimakan mentah saja enak, apalagi diolah," ujar Fakri.
Untuk itu, pihaknya telah mendaftarkan buah salak dan alpukat tersebut sebagai varietas unggulan nasional di Kementerian Pertanian RI dan tinggal menunggu SK pelepasan varietas.
"Ini merupakan varietas unggulan hasil produksi pertanian kami, dan kami telah daftarkan ke kementerian, sehingga kalau sudah keluar SKnya, jadi memiliki lisensi," ungkapnya.
Masih kata Fakri, jika itu sudah ada maka sangat berpeluang untuk turut dikembangkan di daerah lain di luar Kota Sabang, dan hasilnya bisa nembus pasar ekspor.
Selain itu, pihaknya juga berkolaborasi dengan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (FP USK) dalam mengangkat dan mengembangkan potensi-potensi pertanian Sabang lainnya.
Dekan FP USK Prof Dr Ir Samadi menyarankan agar Sabang memperkuat sektor kepariwisataannya melalui konsep agrowisata yang memadukan antara potensi keindahan alam yang natural dengan aktivitas pertanian.
"Jika tertata dan terintegrasi dengan konsep agrowisata tentu dapat lebih meningkatkan pendapatan ekonomi petani,” ungkapnya. (AS)