Jaga Ketahanan Pangan dengan Kepemilikan Lahan Garapan
Thursday, 23 March 2023 14:00 WIB
Foto : Lahan pertanian. (Instagram @pkhtipb)
Radarsuara.com - Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB University, Awang Maharijaya menyebut salah satu permasalahan di sektor pertanian Indonesia adalah kepemilikan lahan pertanian. Menurutnya, hal itu menyulitkan petani untuk meningkatkan produktivitas, bahkan meningkatkan nilai tambah produk. “IPB University telah berupaya untuk meningkatkan kapasitas petani dalam meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Kami membutuhkan antusiasme besar dari para petani,” katanya dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Kamis 23 Maret 2023.
Untuk memecahkan masalah tersebut, PKHT IPB University sendiri bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) yang dimana di dalamnya mereka melibatkan para ekonom untuk memberikan pencerahan dan rekomendasi terkait peningkatan produktivitas sektor pertanian secara berkelanjutan di Indonesia.
Bahkan, para pihak tersebut telah dengan intens membahas persoalan itu dalam Indonesia Development Talk Webinar ke-11 bertajuk ‘Strategies for Achieving Sustainable Agricultural Productivity’ yang digelar belum lama ini.
Country Director ADB for Indonesia, Jiro Tominaga mengatakan, topik tersebut sangat penting bagi Indonesia dalam meningkatkan ketahanan pangan, penyusunan kebijakan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi pertanian Indonesia. Terlebih, mayoritas tenaga kerja Indonesia berprofesi sebagai petani kecil.
“Kepemilikan lahan oleh petani masih kecil. Petani juga masih bergantung pada teknologi konvensional serta menghadapi kesulitan akses untuk menjangkau pasar sehingga dibutuhkan produktivitas pertanian yang lebih berkelanjutan di Indonesia,” jelasnya.
Sementara, dosen IPB University dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Prof Muhammad Firdaus sebagai salah satu narasumber turut menjelaskan terkait produktivitas pertanian yang berkelanjutan. Dia mengungkapkan, produktivitas pertanian yang berkelanjutan harus didorong oleh tiga hal. Seperti bagaimana cara mempertahankan produktivitas pertanian, cara mendapatkan akses pasar yang lebih terjangkau, serta cara meningkatkan nilai ekspor produk pertanian.
Petani, kata dia, kerapkali dihadapkan oleh proses rantai pasok yang berbelit hingga tingginya angka food loss. “Tentu saja impor produk pangan bukanlah hal yang tabu. Namun, prinsip utamanya adalah bagaimana kita meningkatkan nilai ekspor sehingga dapat mengimbangi angka impor,” tuturnya.
Pakar Ekonomi IPB ini menjelaskan bahwa produk pertanian merupakan permintaan inelastis. Peningkatan supply produk tanpa adanya peningkatan produktivitas sebagai hasil dari intervensi pemerintah apapun akan menyebabkan penurunan harga yang signifikan.
“Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan penguatan ekosistem melalui produktivitas yang lebih tinggi dan akses pasar yang lebih baik,” kata Muhammad Firdaus. Menurutnya, Indonesia harus melibatkan aspek lingkungan dalam peningkatan produktivitas produk pertanian. Caranya dengan memperbaiki sistem pengukuran produktivitas dengan menggunakan beberapa faktor lingkungan.
“Misalnya seperti ketersediaan air, total pemupukan, biodiversitas dan aspek sosial. Untungnya, di tahun 2019, Badan Pusat Statistik telah meluncurkan proyek pilot Survei Pertanian Terintegrasi (Sitasi) yang memasukkan beberapa poin pembangunan berkelanjutan dalam proses pertanian,” jelasnya. (UM)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023