Pertanian dan Peternakan

Program RJIT Dorong Peningkatan IP Petani Mojokerto, Kalender Tanam Jadi Tepat Waktu

Tuesday, 15 June 2021 21:13 WIB
Foto: Program Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT).

Radarsuara.com Mojokerto - Kementerian Pertanian terus memperluas serapan program Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT). Kali ini program tersebut direalisasikan di Desa Pekuwon, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Program RJIT yang diperuntukkan bagi Kelompok Tani Tani Murni berhasil menstabilkan pola penanaman petani setempat. Berkat program RJIT, kalender tanam petani Mojokerto berjalan tepat waktu.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menuturkan, program RJIT memang dirancang memiliki berbagai manfaat untuk petani. Hal pertama dan utama dari program tersebut adalah peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas petani.

"Kami terus bekerja untuk memajukan pertanian Indonesia. Salah satu indikator kemajuan sektor pertanian adalah peningkatan produktivitas pertanian yang artinya meningkat pula tingkat kesejahteraan petani," tutur Mentan SYL.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil menambahkan, dalam sektor pertanian, meski menjadi kebutuhan mendasar namun air tetap harus diatur sedemikian rupa. Pengaturan air yang baik akan membuat hasil pertanian juga menjadi baik.

"Dengan pasokan air yang cukup maka budidaya pertanian kita juga menjadi baik. Dalam konteks itu, maka program RJIT dirancang sebagai water management, agar petani terus dapat meningkatkan produktivitas mereka," papar Ali.

Menurut Ali, program jaringan irigasi menghubungkan saluran sekunder ke saluran pembawa atau tersier, sehingga distribusi air menjadi lancar. Sebab selama ini saluran sekunder belum terkoneksi dengan saluran tersier.

Ia mengatakan, kegiatan rehabilitasi bukan hanya membenahi saluran irigasi yang rusak. RJIT adalah bagian dari kegiatan padat karya yang menambah pendapatan petani. "RJIT dilakukan bukan hanya untuk  membenahi saluran irigasi yang rusak. RJIT juga dimaksudkan untuk memaksimalkan fungsi irigasi, sehingga bisa mendukung peningkatan," kata Ali.

Direktur Irigasi Ditjen Kementan, Rahmanto menuturkan, kegiatan saluran dikerjakan langsung oleh anggota kelompok penerima manfaat, sehingga kualitas pekerjaan lebih bagus dan volume saluran lebih panjang. Hal itu karena partisipasi kelompok cukup besar serta rasa memiliki dan rasa tanggung jawab terhadap saluran yang di rehab sangat besar.

"Untuk konstrusksi panjang saluran tersier yang di rehab sepanjang 240 meter. Dampak kegiatan program RJIT ini dapat mengairi lahan sawah seluas 80 hektar dari semula hanya 55 hektar, sehingga ada penambahan luas layanan irigasi sebanyak 25 hektar," tutur dia.

Selain itu, program ini juga berdampak terhadap peningkatan Intensitas Pertanaman (IP) dari IP  200, menjadi IP 250. Di sisi lain, Ketua Kelompok Tani Tani Murni, Poniran mengungkapkan, kondisi saluran sebelum dilakukan rehabilitasi merupakan saluran tanah dan banyak mengalami kebocoran akibat kerusakan pada bagian penahan saluran.

"Sehingga air tidak dapat terdistribusi dengan lancar. Namun dengan adanya program RJIT dari Kementan ini saluran dibuat permanen menggunakan konstruksi pasangan batu belah, sehingga air menjadi lancar," ujarnya.

Dijelaskannya, pengambilan air saluran tersier ini berasal dari Daerah Irigasi (DI) Pudak Sari Kanan. "Dampak lain yang kami rasakan adalah ketepatan penanaman sesuai jadwal atau kalender tanam yang telah disepakati oleh kelompok, sehingga dapat melakukan penanaman serentak," tutur Poniran.

 

Komentar

You must login to comment...