Anak Usaha Pertamina Bangkitkan Ekonomi Masyarakat Lewat Program Eco Edufarming
Tuesday, 19 January 2021 17:49 WIB
Foto : Hasil panen hortikultura dari lahan yang sebelumnya tandus kini menjadi subur setelah mengikuti program eco edufarming dari PHE WMO (KlikJatim.com).
Radarsuara.com, Jakarta - PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) bangkitkan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pencarian minyak dan gas bumi, melalui Kegiatan yang menghasilkan produk pertanian..
Field Manager PHE WMO Sapto Agus Sudarmanto mengatakan bahwa “lahan tidur, tandus, tadah hujan di Desa Bandang Dajah Kecamatan Tanjung Bumi Bangkalan, Madura telah dipoles hingga menjadi lahan subur penghasil beragam tanaman hortikultura”.
Seperti tanaman Bunga Koll varietas Liberti, Semangka varietas Esteem, Jagung varietas Madura, Pakcoy varietas Nauly, Bawang Merah varietas Sumenep, Cabe varietas Imola, hingga Tomat varietas Servo.
“Melalui program pertanian di Bandang Dajah ini kami berharap bisa memunculkan kemandirian dan potensi peningkatan ekonomi melalui pertanian organik dan hemat biaya. Selain itu serta mengenalkan potensi pertanian yang ada di Desa Bandang Dajah” kata Agus, di Jakarta, Senin (11/1/2021).
Program ini dilakanakan oleh PHE WMO bekerjasama dengan pendamping program pertanian berawal dari potensi alam berupa ketersediaan lahan. Kesuburan tanah tidak dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat yang enggan bertani.
Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan tentang pola pertanian, pemahaman tentang besarnya modal pertanian dan pangsa pasar yang tidak menjanjikan sehingga masyarakat melihat sektor pertanian di Desa Bandang Dajah tidak bernilai ekonomis.
Ketua Kelompok Tani Sangga Buana Desa Bandang Dajah, Jazi mengatakan, sebelum ada bantuan dari PHE WMO, tidak ada yang menanam seperti ini. Kini mereka sudah menikmati panen raya perdana di awal tahun 2021.
"Adanya hanya tanaman jagung dan kacang ijo. Itu pun setahun sekali, menunggu masa hujan turun," ujar Jazi.
Program Eco Edufarming telah memberikan wawasan dan harapan baru bagi masyarakat sebagai potensi pendongkrak perekonomian dari sektor pertanian. Sedangkan luas lahan tidur dan tadah hujan di desanya mencapai 80 persen.
"Ada tiga warga mendatangi saya untuk bergabung berikut lahannya telah disiapkan," jelasnya.
Hasil panen beragam tanaman holtikultura itu ke pasar-pasar kecil di Bangkalan."Alhamdulillah, saya sendiri mendapatkan ilmu. Ini bermanfaat bagi masyarakat Bandang Dajah. Para pemuda yang menganggur bisa bergabung," ujarnya.
Panen perdana di lahan demplot seluas sekitar 5.000 meter persegi itu mendapat perhatian dari Ketua Kelompok Bisnis Hortikultura Indonesia, Mohammad Maulid. "Ini bagus, mudah, dan menjanjikan. Semacam trigger bagi masyarakat agar semangat bercocok tanaman holtikultura," ungkap Maulid.
Ia menyarankan, para petani holtikultura lebih fokus pada satu tanaman saja. Semisal concern pada tanaman tomat. Ketika nantinya berkembang, lanjut, Desa Bandang Dajah bisa menjadi kawasan atau sentra penghasil tomat.
"Satu desa bisa jadi sentra tomat atau tanaman lainnya. Kami akan membantu dari segi market," sarannya. Selain membantu pemasaran, Maulid juga akan membantu dalam bentuk sarana produksi. "Seperti kebutuhan pupuk ataupun bibit. Petani fokus bertani," tutur Maulid.
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023