Pertanian dan Peternakan

4 Juta Peternak Dukung Hilirisasi Peternakan Gagasan Mentan Amran

14 jam yang lalu
4 Juta Peternak Dukung Hilirisasi Peternakan Gagasan Mentan Amran (Foto: Dok. Kementan)

Radarsuara.com - Sekitar 4 juta peternak mendukung sistem hilirisasi peternakan yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman untuk membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sistem ini mencakup penguatan pasokan pakan, kepastian produksi, hingga penyerapan hasil ternak guna menjaga keberlanjutan usaha dan meningkatkan kesejahteraan peternak.

Dukungan tersebut disampaikan Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, usai bertemu Mentan Amran bersama perwakilan peternak unggas di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, peternak menyambut sejumlah solusi yang disiapkan pemerintah, mulai dari percepatan penyaluran jagung untuk pakan, pengendalian harga bahan baku pakan, penguatan penyerapan telur, hingga rencana pembangunan industri pengolahan hasil ternak.

“Kami mendapatkan banyak sekali harapan. Salah satunya adalah bagaimana menjalin sebuah siklus close loop, sehingga petani jagung, koperasi peternak, dan peternak bisa terhubung dalam satu ekosistem,” ujar Yudianto dalam pertemuan bersama perwakilan peternak, koperasi, dan asosiasi, Jum'at (9/10).

Menurut Yudianto, salah satu terobosan yang disambut baik adalah skema kemitraan antara peternak dan petani jagung melalui koperasi. Kementan akan mendukung penyediaan benih jagung bagi koperasi yang memiliki kelompok petani binaan. Hasil panen petani nantinya dapat diserap peternak untuk memenuhi kebutuhan pakan, sedangkan kelebihan pasokan dapat disalurkan ke Bulog sebagai cadangan.

Skema tersebut diharapkan dapat mempersingkat rantai pasok, memperkuat ketersediaan jagung, serta memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak. Dengan demikian, kebutuhan pakan sebagai komponen utama biaya produksi peternakan dapat dipenuhi secara lebih terencana.

“Koperasi bisa menjalin hubungan dengan petani sehingga hasil panen itu bisa kembali kepada peternak. Ini memotong beberapa mata rantai dan memberikan kesempatan kepada peternak untuk menjaga ketersediaan jagung itu sendiri,” jelasnya.

Selain penguatan pasokan pakan, peternak juga mengusulkan pembangunan industri tepung telur dan tepung daging berbahan baku unggas. Industri tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan sekaligus menjadi alternatif penyerapan ketika terjadi kelebihan produksi.

Yudianto menyebut industri tepung telur berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor. Sementara itu, industri tepung daging dapat menjadi salah satu alternatif pemanfaatan hasil produksi unggas ketika pasokan melimpah, sehingga tekanan terhadap harga di tingkat peternak dapat dikurangi.

“Usulan kami dari para peternak untuk segera dibangun industri tepung telur tadi disetujui. Kami juga berharap pembangunan pabrik tepung daging, khususnya yang berasal dari ayam, bisa segera ditindaklanjuti,” katanya.

Di sisi hulu, pemerintah juga mendorong percepatan penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk membantu peternak, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang menghadapi kenaikan harga jagung dan pakan.

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kabupaten Kendal, Suwardi, menyampaikan bahwa kebutuhan jagung peternak yang berada dalam jaringannya diperkirakan mencapai 223 ribu ton untuk periode Oktober 2026 hingga Februari 2027. Ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam mempercepat distribusi jagung SPHP serta menyiapkan dukungan benih bagi petani jagung melalui koperasi peternak.

Suwardi menjelaskan, koperasi akan berperan menghubungkan petani sebagai produsen jagung dengan peternak sebagai pengguna hasil panen. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membangun harmonisasi antara produksi jagung dan kebutuhan pakan ternak.

Ia juga mengapresiasi koordinasi pemerintah untuk mempercepat distribusi jagung ke wilayah yang membutuhkan, serta upaya menjaga keterjangkauan harga bahan baku pakan dan meningkatkan penyerapan telur.

Melalui penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir, Mentan Amran mendorong agar persoalan peternakan tidak diselesaikan secara parsial. Ketersediaan pakan, keberlanjutan produksi, dan kepastian penyerapan hasil harus berjalan beriringan agar peternak memiliki usaha yang lebih tangguh dan mampu menyediakan sumber protein hewani bagi masyarakat.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan ketersediaan telur dan daging unggas yang terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan.(*/Adv)

 

Komentar

You must login to comment...