Ketersediaan Air Jadi Kunci Produksi, Kementan Pacu Banyuwangi Capai IP 300 (Foto: Dok. Kementan)
Radarsuara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat penguatan infrastruktur pengairan untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Melalui rehabilitasi jaringan irigasi dan pembangunan irigasi perpompaan, Kementan mendorong Kabupaten Banyuwangi meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) hingga tiga kali tanam dalam setahun (IP 300) guna mengoptimalkan produktivitas sawah dan memperkuat swasembada pangan nasional.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui peninjauan lokasi kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) dan Irigasi Perpompaan (Irpom) di Desa Karangrejo dan Desa Gladag, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (22/7). Tim dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) meninjau irigasi tersebut untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai target sekaligus mempercepat layanan air irigasi bagi lahan pertanian.
Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ketersediaan air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan peningkatan produksi pangan. Karena itu, pemerintah terus mempercepat pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi melalui kolaborasi lintas sektor.
"Faktor penentu keberhasilan peningkatan produksi selain benih dan pupuk adalah ketersediaan air. Dan strategi kita adalah bekerja bersama untuk membangun ataupun rehabilitasi infrastruktur irigasi mendukung pertanaman," ujar Mentan Amran.
Sekretaris Ditjen LIP, Dhani Gartina, menjelaskan Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi sektor pertanian yang besar dengan luas baku sawah mencapai sekitar 62 ribu hektare. Namun, potensi tersebut belum tergarap maksimal akibat masih adanya sejumlah jaringan irigasi yang memerlukan perbaikan.
"Hari ini kita berada di Desa Karangrejo, Kecamatan Blimbingsari, meninjau kegiatan irigasi tersier. Ini untuk mengairi hampir 15 hektare lebih, namun potensi di sini sebenarnya lebih dari 100 hektare. Nanti kita dorong perbaikan untuk saluran irigasi sekunder dan primernya, serta beberapa tambahan di tersiernya. Harapannya, indeks pertanaman yang tadinya di bawah dua bisa kita maksimalkan lebih dari dua bahkan bisa sampai tiga kali tanam setahun," ujar Dhani.
Dhani menjelaskan, Kementan di tahun 2026 telah memberikan dukungan bagi Kabupaten Banyuwangi melalui pembangunan Irigasi Perpompaan (Irpom), Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT), serta kegiatan Optimasi Lahan (Oplah). Selain itu, Kementan juga berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dalam penanganan jaringan irigasi primer dan sekunder sesuai kewenangannya.
Kementan juga mendorong Pemerintah Kabupaten Banyuwangi segera mengusulkan perbaikan infrastruktur irigasi daerah melalui skema Instruksi Presiden (Inpres) Irigasi Tahap II Tahun 2026, baik untuk saluran primer, sekunder, tersier, maupun penyediaan akses air bagi lahan sawah tadah hujan.
Selain mengapresiasi swadaya petani yang membangun jaringan irigasi mandiri berbasis panel surya dan pompa air, Dhani mengingatkan pentingnya pemeliharaan infrastruktur dan alat mesin pertanian agar manfaat bantuan pemerintah dapat dirasakan dalam jangka panjang.
"Kalau infrastruktur dan bantuan sudah dibangun serta diserahkan, tolong dirawat bersama. Kalau ada kerusakan kecil atau kebocoran sedikit, langsung dibetulkan. Alsintan seperti traktor juga harus disimpan dengan bersih dan dirawat agar tidak cepat rusak atau berkarat, sehingga pemanfaatannya bisa berjangka panjang," tegasnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, menyampaikan apresiasi kepada Kementan atas dukungan pembangunan Irigasi Perpompaan di wilayahnya.
"Alhamdulillah, bantuan IRPOM di Kabupaten Banyuwangi saat ini sudah masuk proses pengeboran dan jaringan listrik telah terpasang. Dalam waktu dekat kita pasangkan pompa submersible. Harapan kami, seluruh bantuan ini dapat menaikkan Indeks Pertanaman padi minimal menjadi tiga kali tanam dalam setahun, mencegah kekeringan, serta membuat Banyuwangi semakin makmur," ujarnya.
Dampak positif program tersebut juga dirasakan langsung oleh petani. Penyelenggara UPKK Kelompok Tani Sukodadi Desa Gladag, Andi Eko, mengatakan bantuan pemerintah mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
"Dengan adanya bantuan dari pemerintah ini, kami mendapatkan banyak manfaat, di antaranya peningkatan ekonomi karena turunnya biaya produksi. Yang tadinya kita kesusahan air, benih, atau alat kerja, kini diberi bantuan sehingga pendapatan petani menjadi lebih baik," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sukodadi, Harianto, menjelaskan bahwa dari total sekitar 60 hektare potensi lahan sawah kelompoknya, sebanyak 10 hektare pada tahap awal telah memperoleh layanan air melalui program Irpom. Ke depan, petani berharap dukungan modernisasi pertanian terus berlanjut, seperti bantuan drone pertanian, combine harvester, serta penambahan unit pompa untuk mengantisipasi potensi kekeringan dan mendukung peningkatan produksi secara berkelanjutan. (*/Adv)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023