Kehutanan

Kementerian Kehutanan dan FAO Perluas Inisiatif One Health di Sulawesi Tenggara untuk Mengurangi Risiko Zoonosis dan Melindungi Keanekaragaman Hayati

16 jam yang lalu
Foto: Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Kepala Subdirektorat Konservasi Spesies dan Genetika Kementerian Kehutanan, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam acara peluncuran proyek kerja sama Kemenhut & FAO di Kendari. FAO/Saskia Soedarjo

Radarsuara.com - Kementerian Kehutanan, bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), hari ini meluncurkan implementasi proyek Strengthening Animal Health Systems in Southeast Asia and the Pacific for a Healthy and Resilient Region di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa rantai nilai satwa liar (wildlife value chain) merupakan titik interaksi penting yang memungkinkan perpindahan patogen dari satwa liar ke manusia maupun hewan domestik, sehingga meningkatkan risiko munculnya penyakit zoonosis.

Menanggapi tantangan tersebut, proyek ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk instansi pemerintah, masyarakat lokal, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan, untuk memperkuat pendekatan One Health di Indonesia melalui upaya pengurangan risiko penyakit zoonosis di sepanjang rantai nilai satwa liar, sekaligus mendorong pelestarian keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan.

Membuka kegiatan tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Muhammad Fadlansyah, yang diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, menyambut baik inisiatif ini dan menegaskan pentingnya posisi strategis Sulawesi Tenggara dalam rantai nilai satwa liar di Indonesia.

"Keanekaragaman hayati yang kaya serta ekosistem yang unik di Sulawesi Tenggara merupakan aset yang sangat berharga untuk mendukung mata pencaharian masyarakat, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat. Di saat yang sama, provinsi ini memberikan peluang yang sangat baik untuk memperdalam pemahaman kita mengenai interaksi antara satwa liar, manusia, dan ekosistem. Kami menyambut baik kolaborasi ini dan berharap dapat bekerja sama dalam memperkuat upaya pengurangan risiko zoonosis di wilayah Sulawesi," ujarnya.

Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi utama sumber satwa liar di Indonesia. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam mengenai rantai nilai satwa liar di provinsi ini sangat penting untuk mengidentifikasi berbagai peluang dalam mengurangi risiko penyakit zoonosis, sekaligus melindungi keanekaragaman hayati dan mendukung mata pencaharian masyarakat setempat.

Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan implementasi proyek Wildlife Wet Markets (WWM) Project (2022–2023) yang dilaksanakan oleh Kementerian Kehutanan dan FAO dengan dukungan Pemerintah Australia.

Pada fase pertama, proyek ini menghasilkan berbagai data penting mengenai risiko zoonosis yang terkait dengan perdagangan satwa liar serta menyusun peta jalan multisektor selama lima tahun untuk Provinsi Sulawesi Utara.

Berdasarkan capaian tersebut, proyek kini memperluas implementasinya ke Provinsi Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan, sembari melanjutkan kegiatan di Sulawesi Utara. Proyek ini akan melakukan pendalaman pemahaman terhadap rantai nilai satwa liar di provinsiprovinsi sumber utama pemasok satwa liar. Melalui penelitian, dialog kebijakan, dan penguatan kolaborasi multisektor, inisiatif ini akan menghasilkan bukti ilmiah yang menjadi dasar penyusunan intervensi dan kebijakan yang praktis serta sesuai dengan konteks lokal untuk pencegahan zoonosis.

Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara atas sambutan hangat dan komitmen kuat dalam mendukung pelaksanaan inisiatif ini.

"Pengurangan risiko penyakit zoonosis memerlukan aksi yang terkoordinasi di seluruh rantai nilai satwa liar. Dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang dimiliki, Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar untuk menjadi contoh dalam mengintegrasikan upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan kesehatan masyarakat melalui pendekatan One Health. FAO tetap berkomitmen mendukung Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mengembangkan solusi yang praktis dan berbasis bukti untuk melindungi mata pencaharian masyarakat serta generasi mendatang," kata Rajendra.

Peluncuran inisiatif ini diakhiri dengan lokakarya dan konsultasi para pemangku kepentingan yang melibatkan perwakilan pemerintah, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan untuk menghimpun informasi dasar (baseline) serta mengidentifikasi prioritas aksi yang akan dilaksanakan hingga tahun 2027. (*/Adv) 

Komentar

You must login to comment...