Kementan Gelar Pengendalian OPT Serentak di 230 Lokasi Jabar untuk Amankan Produksi Padi (Foto: Dok. Kementan)
Radarsuara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat perlindungan tanaman padi melalui Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) secara serentak di 230 lokasi yang tersebar di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, Rabu (14/10/2026).
Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko serangan hama dan penyakit tanaman sekaligus menjaga produktivitas pertanian guna mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah harus hadir ketika petani menghadapi kendala yang berpotensi mengganggu produksi.
“Kita tidak boleh membiarkan petani berjuang sendiri. Begitu ada persoalan di lapangan, pemerintah harus hadir dan bergerak cepat. Produksi harus kita jaga karena pangan adalah kebutuhan dasar masyarakat dan menjadi kunci menuju swasembada,” tegas Mentan Amran di kesempatan berbeda.
Sejalan dengan arahan tersebut, gerakan pengendalian OPT di Jawa Barat dipusatkan di Gapoktan Margaasih Berkah Mandiri, Desa Margaasih, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.
Kegiatan dilaksanakan secara serentak di 230 lokasi melalui koordinasi langsung dan virtual, dengan melibatkan lebih dari 400 peserta dari berbagai daerah, termasuk Majalengka, Garut, Cianjur, Sukabumi, Bogor, dan Pangandaran.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Gunawan, mengatakan perlindungan tanaman dari serangan hama dan penyakit merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Menurutnya, pengendalian OPT perlu dilakukan secara terkoordinasi dengan melibatkan petani, petugas lapangan, dan pemerintah daerah agar potensi kehilangan hasil dapat ditekan.
“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, kita harus memastikan setiap jengkal lahan sawah mampu berproduksi optimal tanpa gangguan. Gerakan serentak ini merupakan tindak lanjut konkret untuk mengawal produksi dan menjaga stabilitas pasokan pangan dari hulu,” ujar Gunawan.
Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan, Rachmat, yang hadir langsung di lokasi, menekankan bahwa kekompakan petani menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengendalian OPT. Penanganan yang hanya dilakukan pada sebagian lahan berisiko membuat area yang belum tertangani menjadi sumber penyebaran hama ke pertanaman di sekitarnya.
“Gerakan ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang sangat luar biasa. Kunci utama pengendalian OPT adalah kekompakan. Di Desa Margaasih ini, jiwa kebersamaan para petaninya patut diacungi jempol,” kata Rachmat.
Selain mengedepankan gerakan bersama, Kementan juga mendorong pengendalian OPT yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan Agen Pengendali Hayati (APH). Dalam kegiatan tersebut, petani mempraktikkan aplikasi APH pada tanaman padi, kemudian mengikuti edukasi mengenai Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).
“Kami mendorong Gapoktan untuk menyediakan sarana pengendalian hayati secara mandiri agar tidak bergantung pada produk kimia komersial. Selain menghemat biaya produksi, hasil panennya pun jauh lebih sehat bagi masyarakat,” tambah Rachmat.
Melalui edukasi PHT, petani diperkenalkan pada berbagai organisme pengganggu yang berpotensi menurunkan produktivitas tanaman, mulai dari hama seperti wereng hijau, wereng cokelat, penggerek batang, tikus, keong mas, dan hama putih; penyakit seperti blas, hawar daun atau keresek, dan tungro; hingga gulma. Pengenalan gejala serangan dan pemantauan rutin menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pengendalian yang tepat.
Kepala Desa Margaasih, Yayan Suryana, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam kegiatan tersebut. Ia berharap gerakan pengendalian secara serentak dapat meningkatkan kesiapsiagaan petani dalam menghadapi serangan hama dan penyakit tanaman.
“Gerakan ini sangat memotivasi petani kami. Kami optimistis ini dapat meminimalisir risiko serangan hama sehingga produksi padi di desa kami melesat naik,” ujar Yayan.
Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Camat Cicalengka, Cucu Hidayat, penyuluh pertanian lapangan (PPL), petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta para petani.
Kementan terus mendorong penguatan koordinasi dan penerapan pengendalian OPT terpadu sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas tanaman dan mengamankan produksi pangan nasional.(*/Adv)

Komentar
You must login to comment...Be the first comment...