Pengakuan Korban Pelecehan oleh Oknum Kiyai di Pati Bikin Merinding, Cuma Bisa Merem Saat Satu Kamar dengan Pelaku
6 jam yang lalu
“Ilustrasi” pengakuan korban oknum kiyai di Pati. (Foto: dibuat dengan Artificial Intellegence)
Radarsuara.com - Kasus dugaan kekerasan seksual di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus memunculkan pengakuan baru dari para korban. Salah satu mantan santriwati berinisial Tari, nama samaran, mengungkap pengalaman yang disebutnya terjadi saat masih menempuh pendidikan di bangku SMP. Ia mengaku kerap diminta tidur satu kamar dengan pengasuh pondok menggunakan alasan penyembuhan batin dan pengobatan spiritual.
Pengakuan itu disampaikan Tari dalam tayangan podcast milik Denny Sumargo yang tayang pada awal Mei 2026. Dalam perbincangan tersebut, Tari menceritakan bahwa dirinya mulai dekat dengan pengasuh pondok karena sering diminta membantu, termasuk memijat. Seiring waktu, ia disebut memiliki “penyakit batin” yang menurut pelaku harus disembuhkan melalui ritual tertentu.
“Kalau habis ziarah sama habis sholawatan biasanya langsung diajak nemenin tidur itu. Enggak sampai berhubungan sih, Pak,” ujar Tari dalam tayangan tersebut.
Saat diminta menjelaskan lebih lanjut, Tari mengatakan dirinya hanya tidur satu kamar dengan pelaku. Denny Sumargo kemudian mempertanyakan alasan di balik tindakan tersebut. Tari menjelaskan bahwa pelaku berdalih menjalankan arahan guru thoriqoh agar sanad keilmuan tidak terputus sekaligus menjadi bagian dari proses terapi batin.
“Bilangnya iri, banyak penyakit dalam lah, semacam iri, semacam dengki, semacam banyak fitnah gitu,” kata Tari menirukan penjelasan yang pernah ia terima dari pelaku.
Meski sempat mengikuti permintaan tersebut, Tari mengaku sebenarnya diliputi rasa takut. Ia bahkan menyebut tidak pernah benar-benar tidur saat berada di dalam kamar bersama pengasuh pondok. “Takut sih, Pak. Kalau gitu kok biasanya aku enggak pernah tidur. Beneran enggak pernah, cuma merem aja gitu,” ungkapnya.
Menurut Tari, selama berada di kamar tidak selalu terjadi tindakan fisik. Ia mengatakan pelaku terkadang hanya menonton video ceramah melalui telepon genggam sambil tetap meminta dirinya berada di ruangan yang sama. Namun, pengalaman yang terus berulang itu diakuinya berdampak pada kondisi mentalnya.
“Iya sering. Tapi sering juga aku nolak. Gimana ya, Pak, kan aku udah sering digituin. Jadi kayak merasa kok gini terus gitu. Mental saya ini kena gitu, Pak,” tuturnya.
Kasus ini kini telah memasuki tahap penyidikan setelah pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo Bernama Ashari ditangkap aparat gabungan Polresta Pati dan Polda Jawa Tengah pada Kamis, 7 Mei 2026. Sejumlah pihak, termasuk lembaga perlindungan perempuan, turut menyoroti kasus tersebut dan mendorong para korban lain agar berani melapor.
Editor: Mahipal
“Ilustrasi” pengakuan korban oknum kiyai di Pati. (Foto: dibuat dengan Artificial Intellegence)
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023