Inilah Sosok Putra Ali Khamenei yang Akan Gantikan Ayahnya Sebagai Pemimpin Iran
Wednesday, 04 March 2026 13:33 WIB
Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei. (Foto: Iran Internasional)
Radarsuara.com - Badan ulama Iran, Majelis Pakar, dilaporkan telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang baru.
Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber kepada media Iran International dengan syarat anonim.
Jika benar, keputusan itu akan menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Republik Islam Iran karena untuk pertama kalinya kekuasaan berpindah dalam satu keluarga sejak Revolusi Iran 1979.
Mojtaba Khamenei, 55 tahun, selama ini dikenal sebagai tokoh yang memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan Iran meski jarang muncul di ruang publik dan tidak memegang jabatan politik formal.
Selama bertahun-tahun, ia disebut beroperasi dari Kantor Pemimpin Tertinggi dan berperan sebagai perantara kekuasaan di sekitar ayahnya, Ali Khamenei.
Posisi tersebut kerap dibandingkan dengan Ahmad Khomeini, putra pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, yang dahulu menjadi ajudan sekaligus orang kepercayaan utama.
Sejumlah analis menilai Mojtaba perlahan membangun pengaruh di berbagai lembaga politik, keamanan, dan keagamaan Iran.
Dr. Eric Mandel, direktur Middle East Political and Information Network (MEPIN), mengatakan Mojtaba telah lama menjadi figur penting dalam struktur kekuasaan Iran meski jarang terlihat di publik.
“Mojtaba Khamenei, putra mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, telah lama beroperasi di balik layar di Teheran, membangun hubungan yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam dan mengkonsolidasikan pengaruh dalam struktur kekuasaan rezim. Ia secara luas dipandang sebagai salah satu arsitek penindasan rezim,” kata Mandel dikutip dari Iran International pada Rabu, 4 Maret 2026.
Sementara itu, penulis dan analis Iran Arash Azizi menyebut Mojtaba juga dipandang dengan kecurigaan oleh sejumlah kalangan.
"Inilah mengapa dia menjadi musuh bebuyutan gerakan demokrasi setidaknya sejak tahun 2009 ketika dia dikabarkan membantu mengatur penindasan. Dia juga dikenal sebagai favorit beberapa kalangan penguasa, seperti mereka yang dekat dengan Mohammad-Bagher Ghalibaf yang memiliki ambisi untuk menjadi penguasa kuat Iran."
Pengaruh Mojtaba disebut banyak bersumber dari kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Hubungan tersebut sudah terbentuk sejak Perang Iran–Irak pada 1980-an ketika ia bertugas di Batalyon Habib, unit yang berisi relawan jaringan revolusioner yang beroperasi di bawah pasukan terkait IRGC.
Banyak anggota unit tersebut kemudian menduduki posisi penting dalam lembaga keamanan dan intelijen Iran, yang diyakini memperkuat jaringan kekuasaan Mojtaba di dalam aparat keamanan negara.
Meski memiliki pengaruh kuat di lingkaran kekuasaan, pencalonan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi juga memicu perdebatan terkait kualifikasi keagamaan.
Konstitusi Iran mengharuskan pemimpin tertinggi memiliki pengetahuan mendalam tentang hukum Islam serta diakui sebagai otoritas keagamaan senior.
Mojtaba diketahui pernah belajar di seminari Qom di bawah sejumlah ulama konservatif, namun ia tidak menyandang gelar ayatollah dan tidak dikenal sebagai mujtahid.
Selain itu, ia juga dinilai tidak memiliki pengalaman administratif dan eksekutif yang secara formal dipersyaratkan dalam konstitusi.
Jika pengangkatannya benar-benar terjadi, para analis menilai hal itu dapat memperkuat kritik bahwa sistem politik Iran bergerak menuju pola kekuasaan yang bersifat dinasti.
Editor: Mahipal
Komentar
You must login to comment...Be the first comment...
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor
1134/DP-Verifikasi/K/X/2023